Sabtu, 16 Februari 2019

Saya ingin...

Kadang saya ingin melupakan saja profesi saya yang satu ini. Bertahun tahun menjalankannya dan berhubungan dengan salah satu instansi pemerintah membuat saya lelah.

Saya lelah menunggu mereka berubah. Saya tidak mengatakan semuanya jelek. Ada beberapa oknum yang bekerja seperti seorang pemeras, meminta uang lebih apabila urusan ingin beres.

Dari awal bekerja saya sudah berkomitmen tidak menyediakan jalur cepat pengurusan karena itu sama saja membuka peluang korupsi, jika klien saya tetap meminta karena sesuatu alasan penting saya mempersilahkan mereka langsung yang mengurus.

Kadang saya hanya bisa menghela nafas dan gumun dalam hati, kapan mereka akan berubah, karena ini sama saja menganiaya orang yang mempunyai keperluan. Pekerjaan saya sering lama dan terhambat karena saya tidak mau membudayakan amplop tiap meja dengan risiko pekerjaan saya lambat dan bertele tele.

Disaat semua kementrian berubah menjadi lebih baik dan merubah pelayanan menjadi online, yang satu ini masih juga belum berubah.

Kadang saya mikir, apa mereka ga takut hari akhir ya, bagaimana kelak pertanggung jawaban kepada Nya, apa mereka tidak menginginkan keberkahan. Banyak pertanyaan yang bersliweran di pikiran saya.

Akhirnya saya hanya bisa menjauh dan tidak optimal dengan profesi ini. Saya harus memilih, jika saya teguh dengan prinsip saya ini tentu saja banyak orang yang tidak mau bekerja sama dengan saya. Saya terima itu semua, saya tidak.peduli jika saya tidak berpenghasilan tinggi atau karir saya stagnan. Saya tidak ingin menukar hari akhir saya dengan kebahagiaan dunia yang sementara.
Sedangkan untuk oknum yang tidak juga mau berubah saya hanya ingin bilang, saya kasian dengan mereka, betapa berat pertanggung jawaban mereka nanti.

Yahh tulisan ini mungkin semacam curhat 😊 tapi biarlah saya hanya ingin bersuara, saya mencintai negara saya dan ingin negara ini makmur dan berkah kehidupannya. Saya ingin yang bekerja di pemerintahan dan semua tempat lain menganggap bekerja juga bagian dari ibadah.

Saya tidak akan lelah mencintai negara ini terutama tidak akan lelah mencintai.kebaikan.

Salam

Dari seorang masyarakat biasa yang ingin melihat perubahan di semua pelayanan masyarakat. 😊

Masih Tentang Pertemanan 😊

Minggu lalu ketika weekend saya pergi ke Bandung selain ada keperluan keluarga, bonusnya jalan-jalan yeayy ini modus 😀. Setelah urusan selesai, saya sengaja janjian sama teman lama, ya delsy teman main dari smp, dan desy teman dari sma.

Klo dipikir pikir betapa setianya saya merawat pertemanan ini, hampir 24 tahun berlalu saya masih tetap kontak sama mereka.

Saya akui saya bukan orang yang ramah dan mudah membuat pertemanan. Teman saya orangnya itu itu aja, klo sekedar teman sambil lalu ya emang banyak, tapi yang tertinggal di hati tetap itu itu aja.

Jadilah saya ngobrol sepanjang sore dan lanjut besok paginya bersama mereka. Apa yang diobrolin bisa selama itu? Ya tentang masa lalu zaman sekolah sampai tentang update kehidupan, ga pernah bosan saling bercerita.

Ada sepenggal kalimat yang saya ingat ketika ngobrol, "banyak ya teman kita yang sekarang udah jadi bos besar dan mapan secara materi, jadi ga pede klo aku ini apalah" itu kata salah satu teman saya.

What?? Saya ga setuju banget pandangan seperti itu, bagi saya ya ga masalah klo diantara teman yang sekarang punya kedudukan tinggi dan berlimpah kekayaan. Itu ga akan merubah pandangan dan perasaan saya dalam berteman dengan mereka karena saya kenal mereka dari zaman culun yang belum punya apa apa, hanya tau sekolah dan kebandelan remaja puber zaman dulu.

Itulah bedanya teman zaman sekolah sd, smp dan sma dengan teman kuliah, profesi dan pekerjaan. Teman zaman sekolah lebih pure berteman hanya karena berteman aja ga ada atensi lain, beda pembicaraan teman kuliah dan profesi biasanya yang di ceritakan pencampaian profesi, materi dan segala hal kebendaan lain. Dan ini ga salah karena kita berteman di saat sudah dewasa dan tujuan hidup saat itu bekerja dan memperoleh penghasilan. Makanya kadang saya lebih betah ngobrol lama dengan teman zaman sekolah. Karena ga membosankan dan lucu di bandingkan hanya sekedar berbicara sudah punya ini dan itu.

Pada dasarnya berteman itu harus membawa kebaikan, mentertawakan masa lalu yang banyak khilafnya di jadiin pelajaran aja betapa dulu banyak dosa dan sekarang mumpung masih ada waktu harus bertobat. Sedangkan pertemanan yang bercerita hanya tentang gemerlap dunia, lebih baik banyak diingatkan tentang kematian, bahwa yang kita bawa pulang itu hanya kain kafan, dan amal kebaikan.

Jadi begitulah cerita receh tentang pertemanan saya, pada intinya saya mencintai teman teman saya semua.karena Allah. Karena kelak di hari kiamat teman itu bisa menjadi syafaat di hari akhir kelak.

Semoga bisa berteman sampai ke surga ya gengs 😊

Senin, 04 Februari 2019

Pertemanan Zaman Now

Pertemanan zaman now itu...
Jarang ketemu di dunia nyata
Tapi sering bercengkrama di dunia maya

Pertemanan zaman now itu
Bisa detail tau kehidupan temannya
Tapi bisa alpa kehidupan tetangganya

Pertemanan zaman now itu
Akrab dari segi gelak tawa
Tapi kurang dalam hal rasa

Aku hidup di zaman now
Tapi aku lebih menyukai berteman di dunia nyata
Lebih menyukai bertukar cerita sambil melihat raut muka
Kadang perasaan tak bisa terwakili oleh kata, tapi bisa tersampaikan lewat mata

Tekhnologi bisa memudahkan segala hal
Tapi tidak untuk sebuah rasa

Adakalanya kita butuh kehadiran fisik
Bukan hanya sekedar obrolan riuh di wa atau melihat keseharian lewat video call

Jika engkau jarang melihat aku eksis di dunia maya, atau nimbrung si group, itulah alasannya

Aku manusia jadul
Lebih suka melihat langsung
Senyuman dan tangisan di depan mata bukan sekedar emotion yang beraneka rupa