Jumat, 30 Oktober 2020

Selamat Berpulang Bapak

Innalillahi wainna illaihi rajiun

Rabu 21 Oktober 2010
Pukul 16 30

Telah berpulang Raflis Samsudin
Bapak tersayang dan tercinta

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihii wafu anhu

Pak..
Kami ikhlas dan ridho atas semua ketetapan Allah
Maaf jika kami sebagai anak belum banyak berbakti kepada bapak
Bersyukur lia jadi menantu bapak karena bapak mendidik anak lelakinya dengan akhlak ya baik, makasih ya pak.

Pak..kita memang tidak dapat lagi berjumpa secara fisik, tapi dalam doa kita tetap terkoneksi

Saat sedih jadi ingat sama doa dan harapan jika nanti kita semua dipertemukan dan dikumpulkan lagi di surga Allah.

Tentu mewujudkan semua itu butuh tekad dan usaha yang kuat.

Biidznillah berusaha mewujudkan semua itu agar tercapai cita2 ini
Berkumpul di surga Allah bersama orang2 yang kita cintai
Aamiin...

Selasa, 21 Juli 2020

Mencintai Dengan Luar Biasa Dengan Cara Sederhana


Mencintailah dengan sederhana
Itu kata sang guru

Sulit Bagiku
Yang kucintai sungguh luar biasa

Aku juga belum bisa membalas jasa
Jadilah aku mencintai dengan segala macam rasa

Apa yang ada kuberikan
Yang ku tak punya, kuusahakan
Segalanya...

Sampai si cinta menjadi yang ke 2
Aku tau dia tak mengapa

Sampai akhirnya aku terengah-engah
Seperti kehilangan tenaga

Ternyata kenyataan mengajarkan aku apa itu sederhana
Seperti yang dikatakan sang guru

Semangatnya boleh luar biasa
Tapi caranya sederhana saja sesuai keadaan


Bertani, Berdaya dan Sejahtera di Desa Sendiri (Gesang Di Lahan Gersang)


Resensi

Judul Buku       :  Gesang Di lahan Gersang
Penulis              : Diah Widuretno
Penerbit            : Sekolah Pagesangan
Tebal                  : 402 Halaman

 Bertani,  Berdaya dan Sejahtera Di Desa Sendiri

Buku ini bercerita mengenai pengalaman Diah Widuretno sebagai relawan dalam mendampingi anak-anak di dusun Wintaos, desa Girimulya, Panggang, Gunung Kidul.
Gunung Kidul sendiri terkenal sebagai daerah yang tandus dan kering. Sehingga bertani tidak bisa dilakukan sepanjang waktu. Walaupun mata pencarian penduduk disana kebanyakan bertani tetapi menjadi petani bukan suatu cita-cita atau tujuan bekerja bagi generasi mudanya. Bertani hanya dilakukan orang para orang tua saja.
Awalnya mbak Diah (panggilan akrabnya) mendampingi anak-anak di dusun Wintaos untuk belajar non formal. Pada umumnya anak-anak disana sekolah hanya sampai SD, sedikit yang melanjutkan sekolah biasanya tamat dari SD mereka keluar dari desa untuk mencari kerja.
Pertama kali didirikan sekolah ini bernama Sekolah Sumbu Panguripan (SSP) dengan beberapa relawan yang kemudian dalam perjalananya mengalami konflik internal akhirnya bubar dan kemudian menjadi Sekolah Pagesangan (SP) dengan mbak Diah sebagai pendiri dan satu-satunya relawan..
Sekolah ini berusaha merubah pikiran masyarakat bahwa untuk mengatasi kemiskinan itu tidak hanya dengan mencari kerja ke kota tapi bisa dengan berwirausaha dan tetap berada di desa. Tentu ini tidak mudah apalagi usaha yang di usulkan berhubungan dengan pertanian.
 Masyarakat sendiri sudah beranggapan apa yang bisa diharapkan dengan pertanian dengan kondisi alam yang seperti ini. Tetapi dengan tetap membiarkan masyarakat mempunyai pola pikir harus ke kota, efek negatif yang timbul juga banyak. Orang-orang tua disana selain bertani juga mengasuh cucu yang di tinggal karena bapak ibunya bekerja di kota. Apalagi perceraian dan pergaulan remaja yang berisiko menjadi persoalan di masyarakat.
Ketangguhan mbak Diah ini bagi saya sangat luar biasa dengan mengajak anak-anak kecil mulai dari tingkat SD untuk saling terbuka dan diskusi mengenai apa yang menjadi cita-cita mereka dan apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya. Walaupun pada akhirnya proses belajar ini melibatkan kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu.
Pendidikan kita saat ini diajarkan untuk mencari kerja bukan membuka lapangan pekerjaan. Apalagi tema belajar yang seragam tanpa melihat potensi apa yang ada di daerah mereka. Akhirnya siswa banyak mendapat teori tapi minim ketrampilan dalam mengelola kehidupan. Padahal dengan menemukan potensi desa yang kemudian dijadikan usaha dan dikembangkan dengan baik, bisa mensejaterahkan induvidu dan kelompok setempat.
“ Sekolah Pagesangan berusaha mengajak anak-anak berfikir ulang dan menyadari bahwa budaya bertani adalah modal dasar yang sesungguhnya sudah dimiliki, Belajar Bertani adalah belajar tentang keberdayaan dan kedaulatan ditanah sendiri. Tanah yang sekarat akibat telah lama terpapar pupuk kimia dan pestisida, coba disehatkan kembali dengan bantuan mikroorganisme. Proses kembali menghidupkan tanah adalah inti Sekolah pagesangan”
Cara mbak Diah membangun sekolah ini dengan tidak mau menjadikannya sebagai Lembaga, Yayasan atau apapun namanya hingga tercatat legal agar bisa mendapatkan dana bantuan bagi saya ini termasuk langka karena biasanya orang berusaha mencari dana dari luar dan memformalkan institusinya.
Dalam kegiatan sehari-hari untuk melaksanakan programnya mbak Diah butuh dana yang tidak sedikit tapi ia tidak mau meminta sumbangan atau menulis proposal. Ia lebih memilih cara yang lebih terhormat dan mendidik mereka semua bagaimana cara mendapatkan dana tersebut. Akhirnya timbul ide menjual baju bekas dan berjualan donat dan kue-kue yang lain yang semuanya dilakukan bersama-sama.
Buku ini bagus sebagai refleksi untuk melihat kembali pendidikan semacam apa yang kita butuhkan. Untuk daerah tertentu yang rata-rata masyarakat nya sekolah hanya sampai tingkat dasar selain membaca dan berhitung lebih baik banyak diberikan ketrampilan dalam bertahan hidup.
Kita bisa melihat kenyataanya hari ini ketika orang banyak yang di PHK di kota mereka memilih pulang kampung dengan alasan di kampung masih bisa makan. Bagaimana kalau di kampung sawah dan ladang mereka sudah mereka biarkan atau jual,mau makan apa? Padahal kampung akan selalu menjadi tujuan pulang bagi orang yang tinggal di luar tanah kelahirannya.
Saat ini Sekolah Pagesangan sudah bisa dianggap sukses dan mempunyai nama sebagai penghasil makanan di kalangan penggiat makanan sehat. Dengan menjual online produk mereka pun sudah sampai kemana-mana. Akhirnya terbukti siapa bilang dengan tetap tinggal di desa kita tidak bisa berdaya dan Sejahtera?