Sabtu, 09 April 2022

Kelas Onlineku Selama Pandemi (2)

Ada juga kelas online yang saya ambil di bidang agama. Kelas fiqih muamalah dasar bersama ustadzah Meti, kelas muamalah kontemporer serta kelas Bengkel Diri. 

Kemajuan tekhnologi membuat hidup serba mudah, tapi jujur bagi saya tetap kelas offline punya nilai lebih terutama saat belajar agama. Saya termasuk orang yang suka memperhatikan gerak gerik seorang guru. Ada pelajaran adab yang bisa diambil. 

Di dunia penuntut ilmu sudah sering dikatakan belajar adab lebih dahulu sebelum belajar ilmu. Kadangkala belajar adab ini jarang pembahasan khusus makanya saya suka memperhatikan gerak gerik guru, bagaimana cara dia menyampaikan sesuatu, merespon pertanyaan bahkan mengatasi suasana yang tidak menyenangkan di suatu majelis. 

Tapi tidak ada yang sia sia karena kemaren lagi pandemi tidak ada pertemuan langsung tatap muka sebagai pengobat rindu majelis agama, belajar agama lewat online termasuk Alhamdulillah.

Dari sekian kelas online yang saya ikuti selama pandemi, ada satu yang bagi saya manfaatnya bintang lima, belajarnya setiap hari habis subuh selama dua tahun non stop, yang ngajar juga ustadnya Masya Allah, bagus ilmunya dan adem penyampaiannya.

Kajian riyadush shalihin setiap Subuh dan kajian wanita tiap Senin siang bersama ustad Nudzul Zikri. Dengan belajar rutin seperti itu perubahan nyata terlihat dalam hidup saya. Kata suami secara prilaku saya lebih baik. Pemahaman dan pengalaman agama lebih bagus. Masya Allah terharu ketika orang terdekat kasih testimoni seperti itu, ternyata selama ini ketika ada prilaku saya yang buruk  suami diam aja dan tidak disampaikan secara langsung, menegur dengan caranya sendiri. 

Alhamdulillah untuk semua hal yang terjadi selama 2 tahun ini. Pandemi telah mengajarkan banyak hal. Kelas ini hanya sebagian kecil pelajaran yang saya dapat. Pelajaran hidup lebih banyak lagi. 
Ketika kita sudah percaya rencana Allah itu pasti yang terbaik, mau apalagi selain menerima dengan bersyukur.


Saat itu ketika mama pergi

Kupikir aku pengen sendiri tanpa mama
Trnyata setelah mama pergi
Aku kolaps ketika mendengar mama sakit

Inilah perasaanku yang sebenarnya
Aku sayangggg bgt sama mama
Kemaren2 itu ketika perasaan ingin pergi ternyata karena aku lelah dan bosan
Sekarang ketika ga ada mama hidup terasa ada yang kurang dan hampa

Aku berjanji ketika nanti mama pulang aku akan merawat mama sebaik2 baiknya dan ketika aku mulai kesal dan merasa ingin pergi aku akan mengingat bagaimana perasaan hampa ketika mama ga ada dan perasaan cemas pangkat seribu ketika mama sakit.

Akan kuingat dengan baik perasaan itu 

Selasa, 15 Maret 2022

Kelas Menulis Biografi bersama AE Alberthine Endah


Saya melihat AE sebagai orang yang menguasai penulisan biografi di Indonesia. 
Perkenalan saya pertama kali dengan karya AE lewat buku Merry Riana, Mimpi Sejuta Dolar.
Terus terang saya kaget baca buku tersebut. Buku tersebut bagus tapi di luar apa yang saya pikirkan tentang biografi selama ini. Biasanya buku biografi itu ditulis seperti buku diktat dan membacanya seperti CV seseorang. Sedangkan di buku Mery Riana ini seperti membaca buku fiksi layaknya novel, begitu banyak cerita drama yang penuh lonjakan emosi. 
Setelah itu saya bertanya-tanya apakah bisa cerita biografi dibikin seperti non-fiksi?

Lama pertanyaan itu menggantung di pikiran saya, setelah itu setiap buku biografi yang ditulis oleh AE keluar saya baca ada Athirah, Chrisye, blue bird, dll.
Semua buku itu mempunyai benang merah yang sama, ada cerita rasa dan emosi yang terselip dalam setiap biografi. Untuk Athirah saya sampai heran, kok bisa-bisanya biografi tentang Jusuf Kalla, tapi banyak bercerita tentang bagaimana efek dari keluarga yang bapaknya poligami. Saya pikirJK sebagai seorang pengusaha dan pejabat pemerintah, pasti banyak bercerita tentang kisah suksesnya. 

AE bercerita di sesi kelas penulisan biografi " sewaktu saya ketemu pak JK saya sampaikan, "pak di toko buku banyak buku biografi bapak semuanya bercerita yang sama tentang kesuksesan di bisnis dan pemerintahan, saya mau nulis dengan sudut pandang yang lain,  adakah dalam hidup bapak mengalami perasaan sedih yang paling mendalam?" Ada AE kata  pak JK, sewaktu bapak saya poligami, saya menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap adik-adik dan menjaga ibu saya yang perasannya jatuh saat itu"

Aha, sekarang saya tau jawabannya, pantesan setelah baca buku AE saya berlinang air mata terutama Athirah dan Merry Riana. 

Untuk Mery Riana saya bahkan terbayang-bayang bagaimana seorang mahasiswa, karena ga punya uang untuk makan memilih banyak minum air kran yang banyak tersedia di setiap sudut Singapore. 

Untuk ini AE bercerita, saat bertemu Merry Riana untuk wawancara saya minta diajak dimana tempat-tempat dia dulu berjuang menyebarkan brosur, meminum air kran, dan tempat dia berjuang mencari uang dengan susah. 

Duhh pinter kali pertanyaan AE nih, siapa sih yang ga terbawa emosi saat mengenang dulu tempat dia berjuang dan susah sampai untuk makan pun ga ada uang. 

Yes sampai sini terjawab sudah pertanyaan saya bertahun tahun. Tapi masih banyak lagi ilmu yang diberikan AE. 

Bersyukur saya bisa mendapatkan ilmu itu dari seorang AE. Saya doakan semoga AE ilmunya berkah dan bermanfaat untuk banyak orang. Sehat-sehat bersama anjing-anjing lucunya. 

Kalimat AE yang menjadi catatan penting bagi saya,  "pakai hati dalam menulis bukan hanya sekedar transkip wawancara. Hati kita adalah perangkat yang baik."