Senin, 19 Maret 2012

Islamic Book Fair Mempertemukan Pembaca, Penerbit dan Penulis

Untuk yang kesebelas kalinya IBF (Islamic Book Fair) kembali dilaksanakan, sebagai pecinta buku setiap tahun selalu saya sempatkan untuk berbelanja buku disana. Semakin lama IBF saya liat semakin banyak kemajuan baik dari peserta maupun dari fasilitas. Setiap tahun saya selalu menemukan penerbit buku yang baru, senang juga liat banyak penerbit buku apalagi jika buku-buku yang diterbitkan juga berkualitas bagus.
Sebagai pengunjung tujuan utama saya ke IBF adalah membeli buku baru dengan harga murah karena banyak discount yang ditawarkan bagitu juga dengan buku-buku lama yang dijual sangat murah, selain itu saya suka acara launching buku yang menampilkan sang penulis. Bagi saya ada kegembiraan tersendiri jika bertemu dan melihat para penulis yang saya kagumi. 

Hari Jum'at tanggal 16 Maret 2012 di panggung utama IBF ada acara "Bedah Buku Rame-Rame" bersama tim @ proumedia, bersama Satria Hadi Lubis, penulis buku "Beginilah Seharusnya Aktivis Dahwah", Umar Hidayat penulis buku "Merindukan Jalan Dakwah", Solikhin, penulis buku "Deadline Your Life", Jauhar Al-zanky, penulis buku "Agar Hati Tak Salah Mencintai" dengan pembawa acara ustad @salimafillah. Acara ini bikin saya semangat, terharu dan bahagia, sungguh masih banyak orang baik di Indonesia, mereka masih muda tapi punya semangat yang tinggi terhadap kebaikan, bergerak di jalan dakwah untuk mengajak orang lain bersama-sama di jalan Allah. 

Selama ini biasanya saya hanya peduli dengan para penulis yang karya-karyanya mencerahkan dan membawa kebaikan tanpa melihat siapa penerbit di belakangnya. Dengan adanya acara ini saya sadar penerbit juga mempunyai pengaruh lahirnya sebuah buku, salut terhadap penerbit proumedia yang punya visi dan misi sesuai dengan tagline nya "Tidak Sekedar Menerbitkan Buku Tapi Juga Menerbitkan Gagasan dan Cita-cita". Semoga semakin banyak penulis dan buku yang dilahirkan yang penuh dengan gagasan dan cita-cita.

Selepas ashar kembali saya mengikuti acara bersama proumedia dengan Fauzil Adhim dengan bukunya "Mencari Ketenangan Di Tengah Kesibukan" dan Muhaimin Iqbal (Pemilik Gerai Dinar). Ustad FA saya sudah kenal lama sejak kuliah di Jogja dan sekarang saya mengikuti tulisan beliau di twitter dan facebook. Buku ini merupakan kumpulan tulisan beliau setiap hari Jum'at di Republika Jogja. Seperti biasa uFA memberikan "kegelisahan" terhadap pembacanya. Semakin sering saya membaca tulisan FA semakin galau hati saya apakah selama ini yang saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari sudah sesuai dengan tuntunan Al-qur'an dan hadist. Pak Iqbal banyak bercerita mengenai pendidikan, beliau sendiri membuat sekolah yang bukan hanya hapal Qur'an tapi mengamalkan Qur'an, Subhannalllah.

Begitulah cerita kegiatan saya setengah hari di Islamic Book Fair,  seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang, kini setelah mengenal tim proumedia maka saya mendukung dan mendo'a kan cita-cita nya semoga sukses dan berkah. Aamiin.

Rasa

Jauh itu hanya soal jarak
Aku disini kamu disana
Tapi hati kita tidak berjarak
Tetap satu dalam rasa





Kamis, 08 Maret 2012

Allah Selalu Memberi Yang Terbaik dan Ada Hikmah Dalam Setiap Peristiwa

Sering dalam pekerjaan, kehidupan atau apapun kita mempunyai keinginan yang besar untuk memperoleh sesuatu. Dalam hal pekerjaan misalnya sering saya berada dalam kondisi menginginkan suatu pekerjaan, saya kejar dengan do'a, usaha dan tawakal eh ternyata saya tidak mendapatkannya tapi di lain hal kadang saya tidak begitu tertarik dengan suatu tawaran pekerjaan dan saya bersikap pasif saja ternyata malah prosesnya gampang. Mungkin inilah jawaban dari do'a saya agar saya diberikan yang terbaik karena baik menurut saya belum tentu baik menurut Allah, pekerjaan yang saya kejar itu ternyata sangat kompleks dan jika saya mendapatkannya saya mungkin akan mendapat kesulitan dan membuat saya tidak bahagia. Menurut @arvanpra yang dicari dalam pekerjaan adalah kebahagiaan bukan semata kesuksesan atau uang.
 Dari sinilah saya belajar untuk selalu bersyukur dan sabar. Satu hal yang harus selalu menjadi mindset saya apapun yang saya lakukan harus karena Allah dan mencari Ridha Allah. Bekerja dengan niat ibadah bukan semata karena uang. Jika niat hanya karena uang maka hanya itu yang saya dapatkan dan jika tidak mendapat sesuai yang saya inginkan saya akan mudah kecewa tapi jika nilainya ibadah karena Allah yang saya dapatkan tidak hanya untuk dunia saja tapi juga akhirat. Aamiin.

Satu hal lagi saya baru tersadarkan, atas sebuah kejadian sudah lama saya dan suami berencana untuk melakukan bisnis tapi ada saja kendalanya, karena suami saya sangat terikat dengan waktu sebagai seorang Pns sedangkan saya ingin bisnis itu dikerjakan oleh suami karena saya juga bekerja. Sekarang muncul kasus seorang Pns yang sama institusinya dengan suami memiliki rekening gendut dan dicurigai itu hasil korupsi dan Pns itu juga mempunyai bisnis, tapi dianggap menyalahi aturan (aturan ini menurut saya sudah tidak zamannya lagi). 
Dari peristiwa ini saya belajar bahwa segala sesuatu itu selalu atas izin Allah dan ada hikmah dalam setiap peristiwa. Peristiwa ini membuat kami berpikir ulang jika benar mau berbisnis lebih baik fokus saja tentu harus ada yang dikorbankan, untuk sementara ini suami saya memilih karir Pns nya, mungkin suatu saat akan berubah karena rencana itu masih tetap ada. Saya sekali lagi yakin Allah akan selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya.

Dalam kehidupan pribadi saya, setelah lama menikah kami belum diberi anak walaupun do'a, usaha dan tawakal telah kami lakukan semampu apa yang kami bisa. Sedih tentu ada sebagai manusia, tapi hikmah yang saya dapatkan kehidupan pernikahan saya Alhamdulillah tanpa masalah berarti, banyak yang bilang kami sangat romantis padahal kami merasa biasa saja. Jika saya melihat pernikahan teman atau saudara  yang gagal dan bermasalah sungguh saya bersyukur tidak mengalaminya. Saya bahagia dengan rumah tangga saya karena suami saya seorang imam yang berusaha membawa keluarganya dalam kebaikan dan berjalan di jalan Allah. Meletakkan iman sebagai pondasi kehidupan rumah tangga membuat saya tidak jenuh dan kehilangan semangat, semakin hari terasa semakin kuat rasa cinta, kami saling berbagi, mendo'akan,  mendekatkan diri kepada Allah dan saling suport satu sama lain. Insya Allah surga sebelum surga yang bernama keluarga sudah saya dapatkan, semoga Allah selalu menjaga hati kami dalam keimanan dan cinta yang kami punya akan mempertemukan kami tidak hanya bersama di dunia tapi di akhirat kelak. Aamiin.