Rabu, 29 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Delapan Belas 18


Seharian kemaren hati saya sendu milihat kesedihan mama. Berawal kemaren malam sepupu saya tlp untuk mengabarkan, bapaknya kritis. Om gendut saya memanggilnya dan itu kakak mama. Mama sempat bicara dengan om mengatakan minta maaf karena udah lama ga bisa mengunjungi karena mama juga sakit untuk duduk dan berjalan aja susah. Mama bicara sambil nangis, dan om membalas dengan bergumam karena sudah tidak bisa bicara lagi. 

Mama tipe orang yang galak, kuat dan tangguh. Sangat jarang saya melihat mama menangis tapi kemaren melihat mama bgitu sendu dan menangis saya juga ikutan nangis. Mama dan abang nya ini umur nya beda jauh 10 tahun lebih, tapi mereka dekat, anak om sering becandain mama dengan mengatakan mama adik kesayangan. Saya juga dekat sama om, kami sering ke rumahnya di kampung, yang saya ingat om suka memberi kami uang istilahnya teng teng.

Saya merenung ternyata begini klo sudah tua, saling merindukan saudara, bagaimanapun ikatan darah itu kental tak akan tergantikan walaupun masing-masing sudah punya keluarga sendiri. 

Saya jadi ingan tulisan ustad Faudzil Adhim, "hubungan saudara tak menjamin kita bisa bersama di surga, tapi menyambung hubungan silaturahmi tegas tuntunannya, berharap dengan tetap terjalinnya silaturahmi bisa tetap bersama mendekat kepada aqidah yang lurus dan agama yang haq"

Saat menulis ini di hp, muncul tlp yang mengabarkan om mustapa telah berpulang, innalillahi wainna illaihi rajiun. 

إِنَّ ِللهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ.

“Sesungguhnya adalah hak Allah untuk mengambil dan memberikan sesuatu, segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang telah ditentukan, oleh karena itu bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah (dengan sebab musibah itu).” [HR. Al-Bukhari no. 1284 dan Muslim no. 923]

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَه وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه وَأَكْرِمْ نُزُلَه وَوَسِّعْ مُدْخَلَه وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِه وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ وَأَعِذْه مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ عَذَابِ النَّارِ

Selasa, 28 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Tujuh Belas 17


Tadi siang saya melihat yutub tentang hijrahnya seorang chef Haryo. Saya tau chef ini karena zaman dulu sering liat di tv. Sekarang penampakannya berbeda dari yang dulu saya liat. Klo dulu keliatan gaul sekarang lebih tenang dan ucapannya penuh hikmah. Ia hijrah disaat sudah memiliki segalanya di dunia, kemudian jatuh sakit dan kehilangan segalanya. Yang membuat ia menyesal dulu hidupnya tanpa iman. Sekarang hidupnya lebih tenang walaupun secara dunia orang melihat ia tidak seperti dahulu. 

Saya follow teman di fb, ada yang bikin saya mbatin dengan statusnya. Sering banget sinis dengan agama islam, yang mengatakan budaya arab lah, semua serba syariah lah dll. Padahal dia juga agamanya sama. Adaikan dia melihat kisah hijrah beberapa orang yang dulunya bergelimang dengan kenikmatan dunia dan kemudian hijrah, semua mengatakan menyesal dulu tidak belajar dan tidak mengenal agama.

Ya inilah kenyataan dunia, ada yang menyesal telat mengenal agama tapi ada juga yang kerjaannya sinis dengan yang berbau agama. 

Zaman perang pemikiran begini memang harus banyak berdoa semoga Allah jaga hati kita untuk tetap dalam keimanan dan keteguhan agama islam. Aamiin. 

Minggu, 26 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Enam Belas 16


Tadi pagi saat kajian rutin dengan umi Yunengsih, dengan tema tasbih, saya dapat ilmu baru. 

Diatara keutamaan bertasbih, ada satu hadist yang meriwayatkan bahwa ; Barang siapa mengucapkan, subhanallahil azhim wa bihamdihi, di tanam untuknya pohon kurma di surga" 

Sebagai seorang pecinta tanaman dan berapa kali menanam pohon kurma tapi belum berhasil, hadis diatas seperti memberi harapan yang membahagiakan, dengan kata lain, ga apa2 ga bisa nanam pohon kurma di dunia yang penting di surga Allah menjanjikan akan menamkan pohon kurma di surga. Masya Allah surga lho, ga ada bandinganya dengan dunia. 
Makanya jangan lupa dan istiqomah untuk memuji Allah dengan bertasbih ( ngomong ke diri sendiri) 

Rabu, 22 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Lima Belas 15

Setelah seminggu di buat ge er 
Ternyata belum rezeki lagi

Kuatkan hati
Ini bukan masalah setahun dua tahun tapi belasan tahun
Selama ini aku bisa dan baik baik saja

Kecewa boleh
Menulis di sini sebagai salah satu obatnya 
Setelah itu tetap semangat
Jangan hilang sabar dan syukurnya
Ada Allah...
Seperti yang sering aku tanamkan di hati
"Terserah Allah aja mau apakan hidupku, insya Allah aku ikhlas dan ridho, yang penting Allah selalu bersamaku dan pasti tau yang terbaik buatku"
Bagiku itu sudah cukup untuk menguatkanku
🙂💪

30 Hari Bercerita, Empat Belas


Misalkan dalam suatu perkumpulan lingkaran pertemanan ada 30 orang, berapa orang yang kita dekat?

Klo untuk saya, paling hanya bisa dekat sama satu atau dua orang, jarang yang bisa banyakan, why? Gau tau juga sayah kenapa 😀

Klo dalam agama, ada hadist yang pernah saya baca, bahwa ruh-ruh itu seperti pasukan yang di himpun dalam kesatuan-kesatuan. Yang saling mengenal diantara mereka akan mudah saling tertaut. Yang saling merasa asing diantara mereka akan mudah saling berselisih ( HR Muslim, No 6376).

Penjelasannya menurut ustadz Salim, "Mereka yang taat kepada Allah akan mudah dipertautkan dengan sesama hamba yang taat, dan dipisahkan dengan yang durhaka".

Jadi kesimpulannya, klo kita taat dan baik Allah pertemukan dengan orang baik dan sholeh begitu juga sebaliknya, jadi ga ada cerita pembenaran misalnya, saya udah baik tapi teman-teman saya yang ga baik, itu sama aja ngeles, klo istilah anak sekarang satu frekuensi. 

So... jangan malas jadi orang taat dan baik, karena itu seperti magnet yang akan mengundang orang baik lain untuk mendekat. 

Selasa, 21 Januari 2020

30 Hari Bercerita, 13 Tga Belas


Pagi ini aku membaca poatingan ustadzah Halimah yang kalimatnya bagus dan hikmahnya dalam 

"Maka terhadap semua rasa, biasa biasa sajalah"

Ya benar kadang kita suka terbawa perasaan klo sedih, kecewa atau galau, padahal semua rasa itu selama di dunia sifatnya sementara
 Hari ini kita sedih besok bisa jadi kita bergembira, hari ini kita kecewa bisa jadi besok kita suka cita. Termasuk benci dan cinta.

Mari kita belajar biasa biasa aja terhadap.semua rasa, apapun itu.

Jumat, 17 Januari 2020

30 Hari Bercerita,.Dua belas 12


Hanya Pms yang bisa membuat seorang wanita menangis tanpa sebab.
Hanya Pms yang bisa membuat emosi ga karuan

Astagfirullah, Ya Rabb..ampuni aku

Sampai sekarang suamiku menolak teori Pms, katanya itu bisa dikendalikam dengan dzikir dan doa. 

Aku percaya tapi aku juga percaya teori kesehatan, jadi gimana donk 🙂

30 Hari Bercerita, Sebelas 11


" Dalam status sosial media seperti facebook, ig, orang banyak tidak menampilkan versi asli dirinya, sudah di perbagus tapi dalam mesin pencarian goggle orang tidak dapat berdusta, itulah kejujuran dalam dirinya"
(Every Body Lies, Seth Stephens)

Saya baca kalimat diatas langsung senyum, iya sih, masa mau bikin status yang aneh2, lebih baik bikin status positif, aman atau motivasi. Klo untuk pencarian goggle, emang pengen cari info apa yang kita mau, lagian orang juga ga tau apa yang kita cari. Kecuali mesin para analis data goggle.

Sekarang lg trend orang bicara big data, bagi saya yang gaptek hal2 kecil bisa bikin saya melongo, lagi cari baju dan tas di google eh ga berapa lama ketika saya membuka laman lain muncul banyak iklan yang berhubungan dengan baju dan tas yang belum berapa lama saya cari. Saya merasa kok pintar amat sih internet ini tapi rasanya dia menghantui dan mengikuti saya terus, tau aja apa yang saya mau 😀.

Itu baru akal manusia cctv nya Allah lebih canggih lagi setiap detik apa yang kita lakukan ada catatanya, niat kita yang tidak tersirat pun Allah tau. Jadi takut mana cctv Allah apa manusia? Bagi saya ilmu dunia itu semakin dalam kita pelajari semakin bertambah kekaguman dan keyakinan kita pada Allah. Masya Allah...


Selasa, 14 Januari 2020

30 Hari Bercerita, 10 Sepuluh


Bulan lalu saya sempat keluar kota pergi hanya bersama sohib zaman sma dulu. Dan ini pertama kalinya saya pergi sesudah menikah hanya dengan teman yang tujuannya cuman pengen ngumpul. Rencananya mendadak begitu di kabarin pagi hari siang saya udah harus ambil keputusan karena berangkatnya besok siang.

Ga sempat mikir lagi gimana2, cuman ragu, my boss izinin ga ya, eh ketika saya wa dia kasih izin dengan beberapa pertanyaan. Jadilah besok saya bertiga ke Bandung, ada yang dari Jambi dan Pekanbaru. Ketika ketemu dan ngobrol rasanya seperti saya masih umur belasan dan masih sma.  

Saya mikir seawet ini ya perjalanan pertemanan, padahal selepas lulus komunikasi kita ya biasa aja ga intens, paling koment di group kelas jarang yang langsung telp dan japri2.

Teman saya emang ga banyak tapi yang sedikit itu akrab dan awet, soalnya saya sendiri susah untuk langsung akrab dengan orang baru, paling ga bisa membuka obrolan baru paling perbanyak senyum. 

Hari pertama pas nginap, saya sekamar sama Desi dan kita ngobrol sampai malam, sesuatu yang bukan kebiasaan saya banget yang jam 8 udah tidur. Rasanya obrolan ga habis2,cerita tentang keluarga (mama papa adik dan kk ) yang mendominasi. Sekangen itu rasanyaa dan pengen update semua berita kehidupan. 

Setelah dua hari bersama mereka, ngumpul, makan dan jalan, saya merasa fresh, ternyata perlu sekali2 saya untuk keluar dari rutinitas selama ini. Jika selama ini berkutat dengan suami, keluarga dan pekerjaan perlu sejenak menjadi seperti seorang anak sma masa lalu walaupun umur sudah menjadi emak seorang pelajar 😀

Trus setelah kita ngumpul kita kembali ke kehidupan masing2, ga tlp dan japri wa juga paling hanya sekali2 koment di group, ternyata untuk tetap terkonek hati dan jiwa itu ga perlu harus selalu keep in touch, yang penting perasaan dan perhatian terhadap teman itu tetap ada. 

Tentu saja kita sekarang lebih banyak berkomunikasi dengan teman yang berada dalam lingkaran hidup kita saat ini karena kita banyak berurusan dengan mereka tapi tetap saja dalam rasa yang paling dalam teman2 lama itu mempunyai tempat yang istimewa, dulu, sekarang dan nanti. 

Senin, 13 Januari 2020

30 Hari Bercerita, sembilan 9


Saya beberapa kali dikometari klo mempunyai sikap yang santai seperti kurang greget klo berbuat sesuatu ☺.
Misalnya waktu kuliah, pas ujian teman2 lain sibuk belajar dan menghafal saya santai aja duduk liatin mereka atau waktu sma udah janjian nonton sama si doi, pas saya udah di bioskop dia datang telat cuman bilang batal nonton karena ada sesuatu, saya cuman bilang ya udah ga apa-apa ga pakai drama macam2.

Nahh yang paling gong tentu saat kondisi sekarang, disaat teman2 kuliah atau seprofesi sibuk sana sini dengan kerjaanya dan udah wow dalam menjalani karirnya saya masih gitu2 aja versi mereka, yang bikin mereka gemes saya kok tenang dan santai aja, padahal klo ukuran nilai akedemis saya punya kemampuan lebih dari mereka.

Jujur kadang saya juga bingung mau jawab apa, karakter saya emang seperti ini, orangnya selow, tenang, emang kliatan seperti ga punya cita2 atau model pekerja keras gitu ya 🤣.
Prinsip saya ngapain ribet, krasak krusuk, selama saya udah ikhtiar ya udah, klo dapatnya minim ya ga apa2 saya sudah cukup bahagia dengan hidup saya. Siapa yang ga pengen hidup yang sangat berkecukupan, ada hasil ada pengorbanan. Saya terbiasa dengan standar cukup dan apabila terjadi sesuatu di luar rencana ya berarti itu qadarullah. Terima kasih ya friends atas perhatiannya, aku emang begini adanya 😉

Bagi saya tiap orang itu mempunyai pribadi yang unik, yang penting kita menjalaninya dengan kesadaran dan bahagia. Semakin kita kenal dengan diri sendiri maka kita tau apa yang harus kita lakukan, ga perlu takut dengan komentar orang kita bukan berlomba dengan orang lain tapi kita tau apa yang kita mau,selaras dengan kesadaran pribadi kita.

Selama masih masalah dunia, cukup aja tapi klo udah masalah akhirat harus dikerjakan dengan segala daya dan upaya, kalo saya gitu sihhh. Boleh khan beda prinsip 🙂.


Sabtu, 11 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Delapan 8


Bercerita tentang dimensia membuat saya sedih. Sedih karena orang yang saya sayangi menderita penyakit tersebut eh tapi tetap itu qadarullah  wa maa syaa'a fa'ala dan sebagai muslim yang baik harus tetap mengucapkan Alhamdulillah alla kulli hall.

Sedihnya disini tentang perasaan sebagai seorang anak, melihat bapak (mertua) yang mendadak memorinya hilang, seperti orang yang berada di dunia lain. Hikmahnya jadi bisa melihat betapa hebatnya Allah telah memberikan manusia dengan segala kerumitan susanan syaraf pada otak, rumit bagi manusia awam seperti saya. 

Dengan sakitnya mama dan bapak saya melihat dua sisi penyakit yang berbeda. Bapak secara fisik sehat tapi syaraf dan psikisnya terganggu sedangkan mama secara psikis sehat tapi fisik nya sakit karena tulangnya bermasalah, kesimpulannya sehat itu harus seimbang fisik dan psikis. 

Kadang saya juga kepikiran, nanti klo umur saya sampai lanjut saya seperti apa ya, menderita sakit apa? Pertanyaan ini sering ditepiskan oleh suami dengan mengatakan pasrahkan semua kepada Allah , jangan berandai andai perbamyak doa saja. Seketika langsung berhenti membayangkan hal tersebut.

Bagi anak ini adalah ujian dan dituntut kesabaran tingkat tinggi, karena orang tua yang sudah berusia lanjut sikap dan tingkahnya akan kembali seperti anak kecil lagi. Bagi saya sendiri andaikan bisa memberikan segalanya untuk orang tua, insyaa Allah semua akan saya berikan, tenaga, waktu dan materi. Walaupun sering juga bilang cape dan lelah, ya karena saya manusia bukan boneka yang ada batrenya 😀

Kalau dimensia bapak lagi kambuh, trus bapak nanya ini lagi dimana, apa yang terjadi, itu siapa, rasanya seperti patah hati, kangennn bisa ngobrol2 lagi seperti dulu. 
Ketika saya tau bapak sakit dimensia dan saya baru mendengar nama penyakit itu, langsung sibuk googling kemudian beli buku tentang dimensia. Berharap dengan banyaknya info yang saya terima saya bisa menangani dan memperlakukan bapak dengan benar sesuai dengan kondisinya, walaupun membaca.buku tersebut sampai sesak nafas karena sedih dan tau betapa ngeri efek dimensia tersebut. 

Ini salah satu catatan perjalanan hidup yang harus di jalani, Allah sebaik baik pembuat rencana. Ga tau hikmahnya aekarang, mungkin besok2 jadi tau, klo pun akhirnya ga tau ya ga apa2, percayakan dan pasrahkan sama Sang Maha. 

Rabu, 08 Januari 2020

30 Hari Bercerita, ke 7


Setelah tiga tahun kebelakang kegiatanku diisi dengan rutin mengikuti taklim, tahun ini aku ingin taklim yang kuiikuti membekas alias nampol di kalbu. Jangan sampai teori yang masuk banyak, praktek kurang apalagi hanya sambil lewat saja dan kemudian lupa.

Yang kurang dariku adalah murajaah ilmu, kitab atau buku yang sudah dipelajari ada beberapa yang sudah khatam tapi ketika di tanya lagi aku sudah lupa, apa yang diajarkan sudah berapa persen yang di praktekkan, belum lagi hapalan ayat dan hadist yang tidak seberapa sudah banyak lupanya klo harus diulang. Jadi tahun ini aku ingin taklim tidak hanya sekedar pergi, duduk, nyatat kemudian pulang trus catatan ga pernah dibuka lagi. 

Hapalanku juga cendrung menurun beberapa bulan ini, selain waktu lebih banyak ngurus mama ketika istirahat dan waktu luang banyak kupakai membersamai hp. 

Yukk ahhh Bismillahirrahmanirahim, menuju 2020 dengan mengisi waktu yang berkualitas, insya Allah...

Senin, 06 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Enam 6


Hellow 2020

Saya udah lama banget ga bikin resolusi lagi. Dulu rajin di catat di buku apa aja resolusi tahun ini, 5 tahun dan 10 tahun kedepan. Sepertinya ini pengaruh bacaan zaman kuliah tentang motivasi dan buku kang abik ayat ayat cinta. Sebenarnya bagus juga sih kebiasaan seperti itu karena dengan tercatat kita tau maunya kita seperti apa dan lebih terarah mau di bawa kemana tujuan kita.

Trus kenapa sekarang saya ga bikin lagi? Jujur dulu target saya banyaknya tentang dunia biasalah anak muda kurang tarbiyah 🙂walaupun ada satu dua tentang akhirat terutama soal peningkatan ibadah. Sekarang saya bosan klo hidup banyak di target hanya tentang dunia aja apalagi selama penantian 16 tahun ini keinginan yang saya impikan belum tercapai. 

Apakah saya terluka dan kecewa?  Entahlah, hanya satu yang paling saya rasakan, sebagus apa pun rencana dan ikhtiar saya jika Allah belum berkehendak, hasilnya nol.
Sekarang saya lebih pasrah dan tawakal kepada Allah dan lebih selow dalam menghadapi hidup, rencana tetap saya susun dalam hati, usaha saya lakukan semampu saya jika dalam pelaksanaanya banyak hambatan ya sudah itu namanya qadarullah. 

Seperti kondisi 6 tahun terakhir disaat mama sakit kegiatan saya langsung berganti hanya dengan mengurus mama. 

Apakah saya sedih dengan kondisi saya? Awalnya iya tapi setelah saya banyak belajar ilmu agama, rutin taklim, saya jadi tau yang mana sesungguhnya prioritas hidup saya, apalagi sudah ada contoh di zaman tabiin tentang kisah uwais al qarni. Saya benar benar termotivasi dengan adanya kisah itu, saya sekarang tau pada akhirnya tujuan hidup itu seperti apa, menjalaninya harus seperti apa, dan skala prioritasnya seperti apa. 

Apakah sekarang hidup saya bahagia? Klo standar bahagia artinya senang terus, berarti jauhhh. Sekarang yang saya cari berkah. Jika dalam prosesnya saya banyak jatuh, sakit dan penuh air mata, saya terima dengan senang hati. Sekarang yang saya dapatkan ketenangan dalam menjalani hidup ini. Ketika kita lagi susah dan kita menjalani dengan tenang dan sabar bagi saya itu nikmat banget. Mau apa lagi karena sunatullah hidup itu penuh ujian, hadapi saja dengan panduan hukum Allah, biidznillah, insyaa Allah semoga Allah ridho dengan apa yang telah kita lakukan dan rencanakan. 

Minggu, 05 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Kelima


Kini aku tau apa yang membuat aku tenang walau kadang itu merepotkanku, menghentikan kegiatanku dan menghabiskan waktuku.

Aku mau melakukan segalanya, baik tenaga, waktu dan uang.

Kadang untuk pergi sebentar saja aku takut, khawatir kenapa kenapa.

Mungkin seperti ini yang dulu mama rasakan ketika mengurus aku.

Semoga sehat, sabar, ikhlas dan kuat ya mam.
Ada aku disini yang insya Allah akan menjaga mama sepenuh hati dan jiwaku, love you cause Allah.

Sabtu, 04 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Keempat


Sekarang aku khawatir klo cuaca dingin. Dingin membuat tulang mama kesakitan dan nyeri. Biasanya sambil dzikir mama menjerit menahan sakit. Pada bagian ini aku seringkali ga kuat menahan air mata didepan mama. Hanya bisa berdoa sambil memberi salep obat nyeri.

Januari termasuk musim hujan dan cuaca  dingin, andaikan ada mesin pemanas ruangan tentu ini bisa menjadi solusi, sayang mesin ini biasanya ada di negara yang mempunyai musim dingin.

Sering saya memohon kepada sang Maha Penyembuh agar mama diberi kesabaran, ikhlas dan kuat atas sakitnya. Rasanya ga tega dimasa tuanya mama harus menanggung rasa sakit  sampai mengeluarkan air mata.

Minta sehat ya Rabb...agar bisa beribadah dan melakukan kebaikan dengan paripurna. 



30 Hari Bercerita, Ketiga

Alhamdulillah Alla Kulli Hall (Segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan)

Ga tau bagaimana sedihnya hati ini liat kondisi banjir yang melanda jabotabek. Liat mobil yang terapung, orang mengungsi sampai atap, jalanan serta rumah yang hancur, subhanallah 😪.

Disaat hati sedih, aku banyak membaca di sosmed orang yang menghujat dan menyalahkan gubernur anies, aku lewatkan saja berita itu karena toxin bagi jiwa. 
Ketika membuka wa disalah satu grup eh ada juga yang membahas masalah anis vs ahok, gemess pengen komentar juga.

Aku termasuk orang yang ga ngikutin berita politik entahlah kenapa sekarang aku udah ga minat mungkin sudah lewat masanya dulu zaman kuliah aku mencermati setiap berita politik berlangganan koran, majalah serta membaca buku tentang politik, sekarang who care aku muak dengan kondisi saat ini.

Akhirnya aku terlibat juga dalam obrolan itu, untungnya sebelum jauh terlibat aku bisa berhenti karena yang di bicarakan tentang personal bukan suatu konsep. Klo bicara personal aku angkat tangan rasanya kok sok tau banget komentarin orang lain, klo dikatakan ahok didepak karena agama trus di gantikan yang ga bisa kerja aku ga mau koment juga, klo bicara konsep, bagaimana dulu dan sekarang serta kelebihan kurangnya aku mau. 
Cuman mau bilang aja sama mereka yang sekarang banyak menghujat, pleaseee hujatan itu tidak membantu korban, hanya menambah luka saja. Jika tidak bisa membantu lebih baik diam. 

Emang sekarang orang pada aneh2, musibah gini bukanya saling membantu eh ini malah sibuk saling menyalahkan,.mbok ya tahan dulu saat nanti kondisi sudah tenang.
Ya itulah seperti kata bu mentri, jangan pernah lelah mencintai Indonesia, hanya saya lelah liat kelakuan netizen Indonesia 🙃.



30 Hari Bercerita, Kedua



Alhamdulillah akhirmya suamiku selamat sampai rumah sebelum jam 9 di malam tahun baru.

Karena tidak ada yang istimewa bagiku, jam 10 kami tidur, menjelang tengah malam aku kebangun karena hujan bertambah deras dan ga berhenti henti. Ketika di cek keluar rumah, dipekarangan air deras  mengalir tapi tidak menggenang, ga berapa lama muncul dentuman keras, ku pikir ada yang jatuh di rumah eh ternyata setelah melihat kilatan api baru tau itu kembang api dan sekarang menunjukan tepat pukul 12.00. 
Ya rabb... hujan hujan begini ternyata mereka tetap merayakan malam tahun baru. Kemudian balik ke kamar tapi ga bisa tidur karena memikirkan klo besok masih hujan gimana mau jemput mama ke bandara, berharap semoga tidak banjir di jalanan. 

Jam 2 malam kebangun lagi dan hujan masih deras, langsung ambil hp dan cari info berita, ternyata beberapa kawasan Bekasi dan Jakarta sudah kena banjir. Duhh gimana caranya mau ke bandara pikirku. 

Setelah subuh ku coba telp abangku mau menanyakan kepastian mama berangkat apalah jadi atau di tunda. Dua kali telp ga diangkat akhirnya aku hanya bisa menunggu. Baru setelah jam 8 abangku telpon dan memastikan mama tetap berangkat karena disana cuaca cerah. Gimana caranya mau jemput, aku sudah terjebak di dalam rumah, jalanan untuk keluar rumah sudah banjir. Di berita online dan tv memberitakan banjir yang dahsat sampai banyak rumah kebanjiran sampai atap. Akhirnya ku tlp dua kakak ku dan mereka bersedia memjemput. Menjelang sore ternyata kakak ku yang satu tidak bisa menjemput karena air sudah masuk rumah dan Alhamdulillah kakak ku yang satu yang rumahnya dekat bandara sudah memastikan bisa menjemput mama.

Jadilah di tahun baru aku stag di rumah, menonton tv dan membaca berita dengan sendu. Tengah malam kakak ku kasih kabar kalau air di bawah sudah sekitar 2 meter dan barang banyak yang tidak selamat. Astagfirullah tambah nyeri hatiku. Ponakanku yang nginap di rumah nangis dia cemas membayangkan kondisi bunda dan abangnya serta sedih bagaimana sekolahnya jika buku dan alat sekolah banyak yang hanyut. 

Qadarullah wa maa sya'a fa'al (Allah telah menakdirkan apa yang ia kehendaki). 


30 Hari Bercerita, Pertama


Malam ini bagi sebagian orang istimewa dan banyak yang melewatinya dengan berbagai cara tapi tidak denganku, malam ini aku was was, seperti biasa tiap tanggal 31 suamiku lembur karena tutup buku akhir tahun dan malam ini hujan deras. Hujan deras plus perayaan akhir tahun sama dengan keruwetan jalan, aku memikirkan bagaimana ia pulang. 

Ketika ku wa ia santai saja, aku nanti naik krl saja, aman kok ucapnya santai sambil mengirim foto selfie bersama bu mentri. Duhh gusti orang panik dia bisa sesantai itu, akhirnya jam 7 di tengah derai hujan lebat aku wa lagi, udah pulang say? Tidak berapa lama di jawab "aku naik angkot ke stasiun, mau pesan taxi online tarifnya naik 400 persen, biasanya dari kantor ke rumah 100 ribu lebih dikit sekarang 400 ribu". 

Akhirnya kumencoba tenang dan berdoa dia akan baik baik aja, sambil menunggu aku buka sosmed, sampailah aku pada akun bu mentri yang captionnya menerangkan kerja di hari terakhir 2019 beserta penjelasan apa yang mereka kerjakan dan apa harapannya tahun depan agar ekonomi Indonesia lebih baik. Kulihat fotonya dan ada suamiku nyempil disana bersama rekan kerja lainnya. 


Hufff kutarik nafas dan berdoa semoga kerja mereka berkah, dan setiap waktu yang mereka berikan ada amal kebaikan disana. 
Kutertegun pada kalimat terakhir bu mentri, "jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia".


Ya Rabb ...aku cinta negeri ini, aku berdoa agar negeri ini baldatun thayibatun warabun ghafur. Aku hanya istri biasa yang sering cemas ketika suaminya pulang malam, tugas keluar kota beserta seabreg pekerjaan yang seperti memburunya hingga di rumah pun harus siap dengan status on call.
Bagaimana kalau kalimatnya kutambahin bu mentri? "jangan pernah lelah mencintai Indonesia, keluarga dan agama,.fillah,lillah dan billah ". 🙂
Maklum bu ini p bams istrinya agak lebay, parnonya kebanyakan hehehe

*catatan hati seorang istri pns* 😉