Tampilkan postingan dengan label Office. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Office. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2012

Kongres

Sebuah acara yang menghabiskan dana miliaran rupiah
Dengan persiapan yang sangat matang
Dihadiri oleh ribuan peserta
Untuk memilih siapa yang akan menjadi ketua umum dalam organisasi profesi tersebut

Berakhir dengan gagal untuk memilih
Ditunda menjadi 6 bulan lagi

Jabatan itu amanah yang harus dipertanggungjawabkan
Tidak hanya di dunia tapi di akhirat kelak
Betapa berat menerima sebuah amanah

Aku berandai-andai
Adakah pemilihan untuk jadi pemimpin dalam tingkat manapun
Orang saling mempersilahkan untuk menjadi ketua
Setiap orang sadar akan kemampuannya dan bermusyawarah siapa yang lebih pantas untuk jadi pemimpin

Tidak ada kampanye
Tidak ada permainan
Segalanya berjalan lancar, aman, tertib dan bahagia
Mungkinkah suatu hari nanti????

* Tulisan ini dibuat setelah menghadiri kongres INI ke XXI di Jogja

Selasa, 25 Oktober 2011

Catatkan Perkawinan Anda

Sebagai seorang Notaris dan PPAT tentu pekerjaan saya berhubungan dengan masalah jual beli tanah. Salah satu syarat dalam jual beli tanah/rumah adalah tanda tangan suami istri di Akta Jual Beli sebagai persetujuan untuk menjual, yang dilengkapi dengan surat nikah dan kartu keluarga. Sering kali  saya menemui perkawinan yang tidak tercatat, kadang mereka sudah nikah dan bercerai beberapa kali tanpa tercatat secara hukum. Ini cukup menyulitkan. Dalam Undang Undang, perkawinan tanpa perjanjian pemisahan harta maka harta yang diperoleh selama perkawinan dianggap sebagai harta bersama. Oleh karena itu setiap penjualan tanah/rumah diperlukan persetujuan suami atau istri. Nah kalau perkawinannya tidak tercatat, misalkan sertifikat tanah atas nama suami maka ketika suami akan menjual tanah tersebut dia tidak memerlukan persetujuan istri karena perkawinannya tidak tercatat dan ini pasti merugikan sang istri. Oleh karena itu catatkan perkawinan anda secara hukum karena itu untuk melindungi kepentingan anda sendiri.

Kamis, 10 Februari 2011

Menawar

Belanja tanpa nawar bagaikan makan sayur tanpa garam he he, aku bukan orang yang jago nawar, setiap belanja berapa harga yang disebut langsung aja di oke in, paling nawar dikit sebagai basi basi, kalau ga di kasih ya udah, hanya jadi prasayarat aja biar sah :0. Apalagi belanja ke pasar traditional, wahh ngeliat yang jualan aja udah kasian gimana mau nawar (takut dimarahin juga sih he he).
Tapi gimana jadinya kalau daganganku yang selalu di tawar, dan aku selalu tak kuasa untuk menolaknya. (aku tak kuasa..lagu kalee). Entah kenapa setiap orang yang nawar aku luluh lantak (lebay ihh), apalagi yang sering keukeuh nawar itu malah orang yang berkemampuan secara ekonomi (ga asikk banget khan). Mungkin aku malas untuk berlama lama ngobrol soal harga atau karena gak nyaman atau daripada dia ga jadi ha ha ha. Yang pasti sikap ini bikin karyawanku manyun. Katanya "kenapa sih bu mau aja padahal khan dia kaya." Sebenarnya aku ga liat dia kaya atau miskin walaupun yang sangat menjadi prioritas untuk di tolong adalah yang susah, aku hanya berprinsip kalau mereka mau nawar dan itu gak bikin rugi ya udah ga apa-apa toh untung sedikit juga ga masalah, yang jadi masalah kata temanku, aku nya yang nggak kaya kaya, hikz...
Biar sajalah aku nyaman dengan sifatku ini toh apa salahnya bikin orang senang, kalau soal aku ga jadi kaya, masih banyak jalan ke roma, dengan banyak berbuat baik aku merasa sangat kaya, tapi bukan kaya duit tapi kaya hati, kaya akan rasa bahagia. So kalau buat yang takut takut nawar ketemu aku aja ga perlu gontok gontokan cukup sekali nawar bungkus dehhh xixixixi