Sabtu, 07 November 2020

Cerita Tentang Mamak (2)


Setelah menikah lebih kurang 1 bulan saya ke Bandung sekalian ada acara. Saat itu ada pengajian di rumah mamak. Saya nyampai Bandung udah sore ketika itu acara pengajian sudah dimulai. 

Sewaktu saya duduk bersama tamu2 lain saya duduk disamping mamak, dan mamak mengenalkan saya sebagai mantu barunya. 

Ga berapa lama mamak berbisik, pakai lipstik donk. Saya spontan tersenyum sambil melangkah ke kamar. Saya tersenyum karena tau kebiasaan saya yang ga suka pakai bedak dan lipstik walaupun keluar rumah dan ada acara. 

Bukan karena alasan apa2 emang ga suka aja. Kadang saya pikir buat apa bibir pakai diwarnai segala kayak tembok aja dicat.

Setelah di luar mamak langsung tersenyum melihat saya udah pakai lipstik sambil berbisik nah gitu donk hahahaha

Setelah itu saya masih sering juga lupa pakai lipstik saat bersama mamak tapi mamak udah ga pernah ingatin saya untuk pakai lipstik lagi mungkin udah lebih mengenal kebiasaan mantunya.

Mamak pernah beliin saya mantel hujan saat lagi musim hujan katanya biar ga kehujanan klo pulang kantor. 

Perhatian yang seperti itu sangat membekas di hati. Betapa baik dan perhatianya seorang mertua, padahal saya sendiri merasa masih kurang perhatian sama mamak. 

Satu yang saya sering istigfar dari sifat saya, saking terlalu berhati hati dalam berkata dan berbuat terkesan saya menjaga jarak dan kurang komunikasi. Padahal dalam hati saya ingin ngobrol lebih banyak dan pergi bersama lebih sering. 

Rasanya seperti menjaga gelas kaca yang tipis dan mudah retak. 
Saya takut mamak terluka. 

Dalam hal apapun, saya berusaha tidak menjadi satu titik penyebab kesedihan orang tua, saya hanya ingin orang tua bahagia dan berharap ada saya yang menjadi alasan mereka bahagia. 

Memang kalau bicara tentang kebersamaan dunia memang tidak akan cukup. Hanya sebentar. Hanya sementara.
Berharap bersama lagi di surga. 
Aamiin...


Kamis, 05 November 2020

Cerita Tentang Mamak

Dari kemaren saya nulis cerita tentang bapak tadi pagi saya baru ngeh klo saya belum pernah menulis cerita tentang mamak.

Kebersamaan saya bersama mamak sebagai menantu lebih kurang 13 tahun lamanya. Dalam kurun waktu tersebut hubungan saya bisa dikategorikan biasa, tidak terlalu dekat tapi juga bukan tak bersahabat.

Mamak tipe perempuan yang sensitif dan Pendiam. Hobinya memasak, memasak dan memasak.

Dari sebelum nikah saya tau mamak suka pingsan tiba tiba. Katanya pengaruh dari mag atau apabila ada pikiran.

Dari sinilah saya sangat berhati hati menjaga perasaan mamak, takut apabila salah sikap dan ngomong yang bisa membuat mamak sedih dan kepikiran. 

Sewaktu mamak meninggal sampai sekarang, banyak orang memberi kesaksian, mamak orang yang sangat baik, setiap tamu yang datang pasti disuguhi makanan yang enak, tidak melihat siapapun tamu tersebut.

Mamak bukan orang yang banyak uang karena bapak sendiri pns tentara. Tapi mamak selalu menjamu setiap orang yang datang dengan makanan yang enak dan berbagai macam. 

Mungkin secara matematika manusia bagaimana cara mamak memenuhi segala macam kebutuhan dapur tersebut. Menurut saya mungkin itu berkah sedekah dan matematika langit yang membuatnya cukup dan ada.

Sebagai seorang istri mamak termasuk istri yang taat, patuh dan melayani semua keperluan bapak. 

Kadang saya melihat mamak itu seperti seorang bidadari. Cantik, ga banyak bicara, taat sama suami, baik dengan semua keluarga besar dan pintar masak.

Rasanya memang baru sebentar bersama mamak sehingga saya belum banyak belajar dan ngobrol tentang segala hal. Sekarang  yang tertinggal hanya kebaikan. Berharap itu menjadi amal jariah bagi mamak dan teladan yang patut kami contoh.

Mak makasih ya, anak lelaki pertamanya sangat baik dan perhatian. Ga perlu di tanya lagi darimana dia belajar sikap seperti itu. Dengan melihat mamak aja lia udah tau siapa yang dia contoh.

Love you cause Allah mak, lia berdoa semoga Allah kumpulkan lagi kita di surgaNya.








Selasa, 03 November 2020

Cerita Tentang Bapak (3)


4 tahun yang lalu sewaktu mamak pergi bapak seperti seorang yang kehilangan ruh dalam jiwanya

Hidup tapi seperti tak bernyawa
Energinya habis dimakan kesedihan

Walau kita semua juga merasa kehilangan tapi hanya bapak yang tau apa yang dia rasa dan yang dipikirkannya

Pada akhirnya perasaan sedih berlarut larut menjadi gerbang penyakit dimensia datang menghampiri bapak

Dan kami menghadapi babak baru merawat bapak dengan dimensianya

Walau kehidupan tak lagi sama
Cinta dan kasih sayang tak akan berubah

Senin, 02 November 2020

Cerita Tentang Bapak (2)


Kehadiran bapak di kehidupanku membawa warna tersendiri bagiku. Aku kehilangan abak sewaktu sd, masih kecil dan belum banyak mengerti tentang kehidupan.

Waktu itu yang aku tau kami sekeluarga kehilangan power dan sosok yang berpengaruh dan sempat membuat limbung hubungan kakak beradik.

Pikiranku waktu itu, ternyata ga enak ga ada abak, kakak2 yang sudah besar sibuk dengan urusannya sendiri. 

Masa remajaku sampai lulus kuliah memang full perhatian dan kasih sayang dari mama, kakak2 dan saudara. Tapi aku merasa ada yang kurang.

Aku sempat merasa hidupku suram dan aku memandang hidup itu dengan kesedihan. 

Setelah menikah, aku berjodoh dengan suami yang karakternya melindungi dan protektif, aku yang dulu saat kuliah mandiri setelah menikah berubah menjadi manja dan apa apa maunya diurusin suami. 

Selain suami bonusnya aku mendapat bapak mertua yang sangat perhatian dan sosoknya yang dekat dengan menantu. 

Rasanya aku seperti menemukan sosok bapak yang telah lama kosong di kehidupanku. 

Setelah menikah ada yang berubah dalam hidupku, aku lebih positif dan bersemangat. 

Sewaktu kakak lelaki pertama dalam keluargaku meninggal, bapak bilang kepadaku "jangan khawatir dan sedih ada bapak yang siap melundungi lia"

Bapak seorang militer dan sikap tentara tercermin dalam kesehariannya. Sikap menganyomi sangat terasa.  

Kini bapak udah ga ada
Sunatullah kehidupan
Dunia itu memang sifat sementara

Secara fisik bapak memang sudah ga ada 
Tapi segala hal tentangnya sudah tersimpan di hati 
Melekat sampai nanti


Jumat, 30 Oktober 2020

Cerita Tentang Bapak


Sore itu 16 tahun yang lalu sepulang dari kantor aku mampir ke rs bezuk kakak ipar yang baru melahirkan.

Di pintu masuk bapak langsung menghampiriku sambil menatap mataku dengan cahaya kebapakannya, bapak bilang "hari ini uni yang melahirkan besok2 giliran lia lagi, jangan khawatir"

Mau nangis rasanya dengar bapak bilang gitu, boro2 seperti cerita sinetron mertua yg sinis terhadap mantu, bapak tau banget bagaimana membesarkan hati orang.

Ya itulah bapak, sifatnya sangat penyayang dan melindungi.

Ahhh bapak terlalu banyak cerita tentangmu.
Ana uhibbukka fillah...

Selamat Berpulang Bapak

Innalillahi wainna illaihi rajiun

Rabu 21 Oktober 2010
Pukul 16 30

Telah berpulang Raflis Samsudin
Bapak tersayang dan tercinta

Allahummaghfirlahu warhamhu waafihii wafu anhu

Pak..
Kami ikhlas dan ridho atas semua ketetapan Allah
Maaf jika kami sebagai anak belum banyak berbakti kepada bapak
Bersyukur lia jadi menantu bapak karena bapak mendidik anak lelakinya dengan akhlak ya baik, makasih ya pak.

Pak..kita memang tidak dapat lagi berjumpa secara fisik, tapi dalam doa kita tetap terkoneksi

Saat sedih jadi ingat sama doa dan harapan jika nanti kita semua dipertemukan dan dikumpulkan lagi di surga Allah.

Tentu mewujudkan semua itu butuh tekad dan usaha yang kuat.

Biidznillah berusaha mewujudkan semua itu agar tercapai cita2 ini
Berkumpul di surga Allah bersama orang2 yang kita cintai
Aamiin...

Selasa, 21 Juli 2020

Mencintai Dengan Luar Biasa Dengan Cara Sederhana


Mencintailah dengan sederhana
Itu kata sang guru

Sulit Bagiku
Yang kucintai sungguh luar biasa

Aku juga belum bisa membalas jasa
Jadilah aku mencintai dengan segala macam rasa

Apa yang ada kuberikan
Yang ku tak punya, kuusahakan
Segalanya...

Sampai si cinta menjadi yang ke 2
Aku tau dia tak mengapa

Sampai akhirnya aku terengah-engah
Seperti kehilangan tenaga

Ternyata kenyataan mengajarkan aku apa itu sederhana
Seperti yang dikatakan sang guru

Semangatnya boleh luar biasa
Tapi caranya sederhana saja sesuai keadaan


Bertani, Berdaya dan Sejahtera di Desa Sendiri (Gesang Di Lahan Gersang)


Resensi

Judul Buku       :  Gesang Di lahan Gersang
Penulis              : Diah Widuretno
Penerbit            : Sekolah Pagesangan
Tebal                  : 402 Halaman

 Bertani,  Berdaya dan Sejahtera Di Desa Sendiri

Buku ini bercerita mengenai pengalaman Diah Widuretno sebagai relawan dalam mendampingi anak-anak di dusun Wintaos, desa Girimulya, Panggang, Gunung Kidul.
Gunung Kidul sendiri terkenal sebagai daerah yang tandus dan kering. Sehingga bertani tidak bisa dilakukan sepanjang waktu. Walaupun mata pencarian penduduk disana kebanyakan bertani tetapi menjadi petani bukan suatu cita-cita atau tujuan bekerja bagi generasi mudanya. Bertani hanya dilakukan orang para orang tua saja.
Awalnya mbak Diah (panggilan akrabnya) mendampingi anak-anak di dusun Wintaos untuk belajar non formal. Pada umumnya anak-anak disana sekolah hanya sampai SD, sedikit yang melanjutkan sekolah biasanya tamat dari SD mereka keluar dari desa untuk mencari kerja.
Pertama kali didirikan sekolah ini bernama Sekolah Sumbu Panguripan (SSP) dengan beberapa relawan yang kemudian dalam perjalananya mengalami konflik internal akhirnya bubar dan kemudian menjadi Sekolah Pagesangan (SP) dengan mbak Diah sebagai pendiri dan satu-satunya relawan..
Sekolah ini berusaha merubah pikiran masyarakat bahwa untuk mengatasi kemiskinan itu tidak hanya dengan mencari kerja ke kota tapi bisa dengan berwirausaha dan tetap berada di desa. Tentu ini tidak mudah apalagi usaha yang di usulkan berhubungan dengan pertanian.
 Masyarakat sendiri sudah beranggapan apa yang bisa diharapkan dengan pertanian dengan kondisi alam yang seperti ini. Tetapi dengan tetap membiarkan masyarakat mempunyai pola pikir harus ke kota, efek negatif yang timbul juga banyak. Orang-orang tua disana selain bertani juga mengasuh cucu yang di tinggal karena bapak ibunya bekerja di kota. Apalagi perceraian dan pergaulan remaja yang berisiko menjadi persoalan di masyarakat.
Ketangguhan mbak Diah ini bagi saya sangat luar biasa dengan mengajak anak-anak kecil mulai dari tingkat SD untuk saling terbuka dan diskusi mengenai apa yang menjadi cita-cita mereka dan apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya. Walaupun pada akhirnya proses belajar ini melibatkan kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu.
Pendidikan kita saat ini diajarkan untuk mencari kerja bukan membuka lapangan pekerjaan. Apalagi tema belajar yang seragam tanpa melihat potensi apa yang ada di daerah mereka. Akhirnya siswa banyak mendapat teori tapi minim ketrampilan dalam mengelola kehidupan. Padahal dengan menemukan potensi desa yang kemudian dijadikan usaha dan dikembangkan dengan baik, bisa mensejaterahkan induvidu dan kelompok setempat.
“ Sekolah Pagesangan berusaha mengajak anak-anak berfikir ulang dan menyadari bahwa budaya bertani adalah modal dasar yang sesungguhnya sudah dimiliki, Belajar Bertani adalah belajar tentang keberdayaan dan kedaulatan ditanah sendiri. Tanah yang sekarat akibat telah lama terpapar pupuk kimia dan pestisida, coba disehatkan kembali dengan bantuan mikroorganisme. Proses kembali menghidupkan tanah adalah inti Sekolah pagesangan”
Cara mbak Diah membangun sekolah ini dengan tidak mau menjadikannya sebagai Lembaga, Yayasan atau apapun namanya hingga tercatat legal agar bisa mendapatkan dana bantuan bagi saya ini termasuk langka karena biasanya orang berusaha mencari dana dari luar dan memformalkan institusinya.
Dalam kegiatan sehari-hari untuk melaksanakan programnya mbak Diah butuh dana yang tidak sedikit tapi ia tidak mau meminta sumbangan atau menulis proposal. Ia lebih memilih cara yang lebih terhormat dan mendidik mereka semua bagaimana cara mendapatkan dana tersebut. Akhirnya timbul ide menjual baju bekas dan berjualan donat dan kue-kue yang lain yang semuanya dilakukan bersama-sama.
Buku ini bagus sebagai refleksi untuk melihat kembali pendidikan semacam apa yang kita butuhkan. Untuk daerah tertentu yang rata-rata masyarakat nya sekolah hanya sampai tingkat dasar selain membaca dan berhitung lebih baik banyak diberikan ketrampilan dalam bertahan hidup.
Kita bisa melihat kenyataanya hari ini ketika orang banyak yang di PHK di kota mereka memilih pulang kampung dengan alasan di kampung masih bisa makan. Bagaimana kalau di kampung sawah dan ladang mereka sudah mereka biarkan atau jual,mau makan apa? Padahal kampung akan selalu menjadi tujuan pulang bagi orang yang tinggal di luar tanah kelahirannya.
Saat ini Sekolah Pagesangan sudah bisa dianggap sukses dan mempunyai nama sebagai penghasil makanan di kalangan penggiat makanan sehat. Dengan menjual online produk mereka pun sudah sampai kemana-mana. Akhirnya terbukti siapa bilang dengan tetap tinggal di desa kita tidak bisa berdaya dan Sejahtera?


Senin, 15 Juni 2020

Yuk Kita Ngompos



Rumah saya sekitar 15 kilometer jaraknya dari tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang. Tapi rasanya seperti hanya selemparan batu karena bau khas dari tempat tersebut terasa dekat. 

Sepuluh tahun lalu saat baru pindah ke Bekasi dan pertama kali mencium bau khas tersebut saya sempat mencari dari mana asalnya kemudian saya periksa halaman depan apakah ada sampah yang menumpuk. Ternyata semuanya bersih kemudian saya bertanya kepada satpam komplek yang asli orang Bekasi dan dia menjawab dengan santai bau itu berasal dari TPA Bantar Gebang. Jawabannya bikin saya kaget karena sebelum beli rumah saya udah survei segala hal dan ternyata ada yang terlewat. Setelah itu saya browsing tentang TPA Bantar Gebang, hasilnya sungguh mengerikan dan membuat mual.

Dari sana saya kepikiran bagaimana caranya agar bisa berkontribusi untuk mengurangi sampah. Sungguh TPA Bantar Gebang itu sudah terlihat sebagai gunungan sampah raksasa. Awalnya karena masih minim info saya hanya memisahkan sampah basah dan kering di tong sampah Ternyata cara tersebut ga efektif karena sebelum diambil petugas sampah, pemulung lebih dulu mengacak dan membuka sampah plastik. Walaupun ga di acak pemulung, sampah ini begitu sampai TPA langsung dibuang apapun isinya apakah sisa makanan, sampah medis atau hal yang berbahaya sekalipun akan mejadi satu di TPA.

 Sekitar 4 tahun lalu saya membaca info tentang mengompos dan bulan lalu saya mengikuti kelas   mengompos itu mudah. Pengomposan menurut Wikipedia adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Sedangkan membuat kompos adalah suatu cara mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat.
Manfaat dari mengompos itu antara lain, mengurangi sampah ke TPA, menyuburkan tanah, mengurangi penggunaan pestisida dan bahan kimia yang berbahaya, mengurangi emisi gas metana ysng di hasilkan dari TPA.

Mengompos itu mudah karena tidak memerlukan banyak alat, yang penting syarat terjadinya proses pengomposan terpenuhi. Ada banyak metode dalam mengompos tapi secara umum terbagi dalam dua kelompok besar yaitu Aerob (melibatkan oksigen) dan Anaerob (tanpa melibatkan oksigen).
Pada umumnya ibu rumah tangga lebih memilih mengompos yang praktis, tidak bau, tidak menjijikkan dan sederhana. Maka pilihan yang tepat adalah metode Aerob (melibatkan oksigen)
Metode Aerobik hanya memerlukan wadah (pot/karung/ember,gerabah dll yang telah dilubangi di bawahnya) yang dijual siap pakai pun ada seperti bisa di cek di toko online, kresek/triplek untuk menutup wadah, tanah dan media tanam.

Cara membuatnya praktis, wadah yang disiapkan beri lubang di bawah dan samping kemudian taburkan tanah dan media tanam sebagai dasar setelah itu bisa langsung dimasukan sampah organik, setelah banyak lapisi lagi dengan tanah/daun kering/sekam, tutup dan dalam beberapa bulan bisa menghasilkan pupuk kompos yang bisa dipakai untuk penyubur tanaman.

Setelah mencoba mengompos 4 tahun terakhir proses yang awalnya saya pikir ribet itu akhirnya menyenangkan. Selain sampah terkelola dengan baik dan hasilnya bisa dipakai untuk pupuk bagi tanaman dan terbukti tanaman saya sekarang jauh lebih subur dari pada sebelumnya.
Untuk sampah anorganik sebisa mungkin kita cegah atau kurangi pemakaiannya atau bisa kita olah agar bisa di manfaatkan lagi. Dengan mengurangi sampah dan mengolah kembali sampah organik kita sudah bisa mengurangi volume sampah yang dibuang. Jika dikerjakan sendiri tentu efeknya tidak terasa tapi jika dikerjakan oleh setiap rumah pasti dampaknya akan terasa.

Saya beruntung diberi pengalaman hidup dengan bau sampah yang mampir kerumah dan pada akhirnya merubah pikiran serta gaya hidup saya. Bagaimana dengan sebagian orang yang tidak merasakan ini tentu mereka masih cuek saja membuang sampah dengan memasukan ke kresek diikat dan beres toh ga ada efek langsung yang mereka rasakan.

Saya berusaha mengajak teman serta tetangga di lingkungan terdekat untuk mengompos sampah. Kebanyakan mereka menolak dengan berbagai macam alasan seperti jijik, takut bau, takut belatung/cacing, ga sempat dsb. Saya akui emang awalnya susah untuk keluar dari zona nyaman karena kita dari awal harus mau usaha untuk memisahkan sampah yang bisa dikompos dengan yang tidak. Apabila cara yang digunakan sudah benar dan kompos diaduk secara rutin bau yang ditimbukan bukan bau busuk seperti bau busuk sampah tapi bau fermentasi seperti bau tape.  Sedang belatung (maghot) yang mucul malah bagus karena dia bertugas memakan sampah. Klo alasan ga sempat atau mager, jangan sampai alam rusak kita kena imbasnya dan disitu kita baru sadar.

Menurut info dari pengelola TPA Bantar Gebang (Sumber : detik.com) bahwa TPA Bantar Gebang akan penuh pada tahun 2022, jika dipaksakan tetap menampung sampah mungkin akan terjadi longsor dan berdampak buruk pada sekitar. Tekhnologi yang diharapkan dapat mengurai sampah dengan menjadikan gas metana sebagai daya listrik sampai saat ini masih menjadi pilot project. 
Daripada menunggu solusi yang ada lebih baik kita mulai dari sekarang dengan mengolah sampah kita sendiri dengan mengompos. Walaupun dengan cara yang sederhana tapi jika dilakukan setiap rumah tangga pasti hasilnya akan kelihatan dan sampah akan jauh berkurang.

Berharap banyak kesadaran individu yang timbul dalam mengelola sampah agar tercipta bumi yang sehat. Bumi adalah tempat tinggal kita bersama. Bumi tanpa manusia tidak apa-apa tapi manusia tanpa bumi,mau tinggal dimana?


Rabu, 10 Juni 2020

Tanam Sayur mu Sendiri From Garden To Table




Ketika membuka ig seseorang yang saya lupa namanya, saya membaca quote “sekarang yang hits bukan lagi berlomba lomba atas kemegahan fana, coba belajar temukan bahagia di dalam sederhana”.
Quote ini rasanya benar-benar mewakili hati yang sudah tiga bulan di rumah saja. Awalnya bingung mikirin gimana nanti eh akhirnya lama-lama kalem dan bisa menikmati.
Dua minggu pertama sempat sakit karena efek psikomatis, dari situ berusaha mengelola stress level dengan menyibukkan diri dan menjauhi membaca berita. Salah satu kegiatan yang saya coba adalah berkebun khususnya menanam sayuran. Kenapa sayuran bukan bunga? tanaman hias sudah saya lakukan dari dulu. Saya ga pernah menanam sayur karena saya pikir mengurusnya lebih ribet dan lagian sayur mudah di dapat di warung atau penjual keliling.
Pembatasan aktivitas karena pandemi membuat beberapa pasar dan warung dekat komplek rumah saya tutup. Berhubung konsumsi sayur saya lebih banyak dari pada lauk pauk membuat saya berpikir bagaimana caranya saya bisa dapat sayuran segar setiap hari. Ketika di berita banyak orang panik memborong makanan di supermarket saya pun berburu benih sayuran lewat belanja online.
Alhamdulillah di bulan ke 2 saat masih di rumah saja saya sudah bisa menikmati sayuran produksi sendiri dengan bahasa kerennya from garden to table. Suami saya sempat heran kok mau maunya saya setiap hari berpanas-panasan, main tanah dengan campuran media tanam yang disana ada kotoran hewan karena dia tau banget saya orangnya penjijik dan ogah kena kotor. Jangankan orang lain saya pun heran, tidak hanya kebiasaan saya tiap pagi yang berubah tapi juga bacaan dan tontonan saya juga berubah. Tampilan ig saya dari yang isinya fashion berubah menjadi para penggiat kebun, nonton yutub tentang pertanian sampai saya termehek mehek liat restoran bumi langit di Yogya dan ngedumel kemana aja saya selama ini sering bolak balik ke Yogya kok sampai ga tau ada tempat keren begitu.
Karena ingin nambah pengetahuan saya ikut kelas vegetable gardening, dan itu pesertanya buanyak dengan latar belakang profesi yang beragam, rata-rata alasan mereka pada ikut kelas karena pemula dan ingin cari kegiatan selama mendekam di rumah. Berkebun sendiri bisa meningkatkan imunitas karena ada kebahagiaan yang di timbulkan.
Ketika saya mencari ulasan tentang urban farming muncul istilah ketahanan pangan yang menyatakan bahwa “ Pandemi menyadarkan kita semua bahwa urban farming dan berkebun adalah keahlian bertahan hidup yang penting, terutama saat situasi berubah menjadi darurat (@millennialsfarmer) ”. Wahhh ternyata efeknya bisa sejauh itu padahal saya merasa ini hanya hobi iseng disaat tidak ada kerjaan dan efek pasar yang tutup.
Ternyata apa yang saya temui dilapangan satu minggu yang lalu cukup membuat wow, saat membeli media tanam di toko bunga langganan, toko tersebut berhasil menjual 700 karung media tanam hanya dalam waktu dua jam dan orang antri untuk membelinya dan biasanya media tanam sebanyak itu baru habis satu bulan. Tidak hanya itu saja segala macam pot dan poly bag yang biasanya memenuhi toko tersebut sampai penuh hanya menyisakan sedikit saja barang. Sempat saya tanyakan kepada pemilik toko kok bisa laris gini kata mereka selama libur banyak orang jenuh di rumah saja dan pelariannya dengan berkebun. Ya ampun ternyata saya banyak temannya hahahahaha.
Sekarang saya jadi bertanya sendiri, ketika new normal sudah di terapkan penuh dan aktifitas masyarakat kembali semula apakah kebiasaan ini akan tetap ada? Apakah ini menjadi bagian dari new normal atau seharusnya ini lah hidup yang normal sebenarnya?
Saya merasa inilah hidup normal yang sebenarnya. Selama ini kita terlalu cuek dengan alam dan dari mana makanan kita berasal karena semuanya di dapatkan dengan mudah. Dengan berkebun saya belajar banyak hal, bagaimana menjaga keseimbangan alam. Dengan menanam secara organik mau tidak mau belajar menyesuaikan dengan alam, apabila ada hama maka di obati bukan dengan obat kimia atau membiarkan dan mengalihkan hama tersebut ke tanaman lain. Selain menanam akhirnya saya juga memikirkan pengelolaan sampah. Sampah tidak asal di buang, sampah organic diolah lagi menjadi pupuk sedangkan yang an organik di kempulkan dan diolah lagi untuk hal yang lain.
Saya sebagai generasi 90 dari dulu tidak tertarik dengan yang namanya pertanian baik jadi pilihan kuliah ataupun profesi, yang saya tau jadi petani itu susah ga bisa kaya tapi yang terjadi sekarang orang semakin sadar dengan hidup sehat dan menjaga kesehatan. Sayuran organic dan semua makanan organic di buru para penganut makanan sehat dan untuk harga tentu saja lebih mahal mungkin juga ini efek dari banyaknya penyakit yang timbul yang kadang baru di ketahui namanya saat ini yang dulu tidak ada penyakit tersebut. Pengagas hidup sehat menyakini untuk memulai hidup sehat dimulai dari makanan dan isi piringmu.
Mungkin meng viralkan tagar ketahanan pangan dimulai dari rumah bisa dijadikan kampanye awal agar orang semakin aware untuk menanam apa yang di konsumsinya sedangkan bagaimana caranya info di internet sangat banyak dan soal keterbatasan lahan juga banyak solusinya.
Masa pandemi ini juga mengajarkan kita bahwa alam ga bisa dilawan karena alam akan tetap ada tanpa manusia sedangkan manusia tanpa alam tidakakan bisa. Mari kita berselaras dengan alam ketika kita sudah peduli dengan satu point saja maka kepedulian akan hal lain akan menular. Selama ini kita telah banyak di beri kekayaan oleh bumi, sudahkah kita merawatnya?


Selasa, 26 Mei 2020

repost tuisan Tere Liye


*Paham

Akhirnya saya paham.

Bukan penduduk kelas bawah yang terkena dampak serius pandemi ini. Bukan pula kelas menengah. Juga bukan kelas atas. Sepanjang mereka tidak melakukan hal ini: berhutang.

Sesusah apapun situasi, jika kalian tidak berhutang. Kalian minimal tidak pusing mikirin cicilan. Karena sungguh rumit, walaupun kalian kaya raya, tapi hutang menggunung. Wah, itu susah Bro. Karena akan ada yg nagih, jadi pikiran, stress, susah tidur, susah makan. Tambah susah semuanya. Penjualan seret, bisnis mampet, tapi cicilan tetap harus dibayar. Nah, kelompok inilah yang terkena dampak seriusnya. Kelompok rentan, rapuh, dan menjerit.

Nah, inilah juga yang terjadi hari-hari belakangan ini. Tiga bulan bisnis tidak jalan, mungkin masih kuat. Tapi enam bulan tidak jalan? Wah, mulai sadis dampaknya. Karena hutang harus dibayar. Sekali hutang tersendat, dampaknya lari ke bank. Bank2 mulai kesulitan likuiditas. Efeknya beruntun kemana2. Sekali bank jebol, kacau balau dunia persilatan.

Maka, apapun yang terjadi, bisnis harus dimulai Juni nanti. Sebelum semua yang berhutang semaput. Bukan rakyat kecil yg dikhawatirkan. Kalian kredit panci, lemari, gorden, itu sih tidak serius. Atau kredit motor, rumah, mobil, mungkin itu serius, tapi ssst, masih ada yang lebih serius.

Apa itu? Perusahaan2 yang berhutang. Orang2 itu yang berhutang. Jangan keliru, pejabat2 ini ada punya bisnis, dan bisnisnya juga terbiasa dengan hutang. Belum lagi pengusaha di sekeliling kekuasaan, juga terbiasa dengan hutang. Dengan bisnis mampet, penjualan turun, wow, itu ngeri. Cicilan mau dibayar pakai apa? Daun? Tidak bisa.

Maka bisnis harus jalan. 

Apalagi JIKA negara itu juga berhutang gila2an, ribuan trilyun. Wah, sekali ekonomi terjun bebas, maka pajak akan berkurang drastis, cukai, penghasilan lain, terjun bebas. Tambah kacau balau. Penerimaan mampet. Kurs menggila. Itulah kenapa BBM tidak turun di negara ini, karena konsumsi BBM turun. Makanya harga BBM tetap selangit, itu penting agar tidak tekor. Buat nalangin turunnya konsumsi.

Maka bisnis harus jalan segera. Apapun resikonya. Mari dibungkus dengan "new normal", "sepanjang protokol kesehatan" dilaksanakan. Pokoknya dibungkus apapun, bisnis harus jalan. Mall2 harus buka, karyawan harus masuk, pabrik beroperasi lagi. Itulah yang terjadi, sesederhana itu.

Gara-gara hutang.

Maka, bersyukurlah jika kalian hari ini tdk punya cicilan. Tidak pusing, toh? Meski susah mikir besok harus makan apa, minimal tdk perlu mikirin besok nyicilnya bagaimana. Pun yang terlanjur dan terpaksa berhutang, semoga segera bisa dilunasi. Agar beban itu tidak mengikat kita. Sungguh2 berdoa, semoga rezeki datang, hutang lunas.

Karena yang repot adalah: yang hobi berhutang.

Wah, ini repoooot, Rek. Kemampuan kurang, tenaga lemah, eh nafsu hutang tinggi. Numpuk hutangnya. Tapi dia tetap bangga. Selalu punya alasan dan puja-puji logika. Seolah berhutang itu prestasi, kan hancur logika. Nah, yg ini jelas susah. Karena benarlah kata orang tua dulu: tabiat berhutang itu berbahaya. Sekali seseorang suka berhutang, maka dia akan lagi, lagi, dan lagi berhutang. Dia bisa membuat susah keluarganya, semua jadi kena.

Sungguh, hutang tinggi itu bukan prestasi. Karena kalau itu prestasi, waduh, hahaha, lucu sekali, banyak-banyakan hutang prestasi? Oooh, kulit kerang ajaib, entah itu nasihat dari mana. "Nak, berhutanglah banyak2, semakin banyak hutangmu, semakin berprestasi kamu."

*Tere Liye

Senin, 25 Mei 2020

Merayakan Rindu, Lebaran 2020


Lebaran tanpa ketemu keluarga dan saudara, rasanya mustahil. Tapi inilah kenyataanya sekarang, silaturahmi hanya via online.

Biarlah ini menjadi sejarah yang kelak akan menjadi cerita bahwa pada suatu masa dunia kena wabah penyakit yang belum ada obatnya dan manusia di paksa untuk diam di rumah.

Terlalu banyak cerita sedih dan hikmah dari peristiwa ini, kehilangan orang tercinta, kehilangan pekerjaan, ekonomi menjadi sulit tapi disisi lain ada yang merasakan nikmat bersama keluarga, ibadah menjadi fokus dan semakin dekat sama Allah.

Jika dada sesak karena rindu
Mari kita rayakan rindu ini
Tumpahkan semuanya kepada yang punya raga ini
Biar Allah yang selesaikan
Jika virus yang tak terlihat saja bisa Allah timpakan dan kemudian dunia terguncang
Pastilah kecil bagi Allah menyelesaikan hati yang sesak dan jiwa yang gundah. 

Dekati Allah
Dekati Allah 
Dekati Allah

Minggu, 24 Mei 2020

Ramadhan 2020


Ramadhan tahun ini istimewa
Semoga amalnya juga istimewa

Ramadhan tahun ini banyak menyimpan rindu
Harus tetap ada syukur dan sabar yang menyertai

Ramadhan tahun ini hanya bisa di rumah
Semoga dosa nya juga ga banyak kemana mana

Tangan tak berjabat
Tapi doa terucap

Ramadhan tahun ini....
Semoga bukan ramadhan terakhirku

Taqaballahu minna waminkum 

Minggu, 12 April 2020

#MasaKarantinaCovid


Kangen mama

Kangen bapak

Terisak saat di tlp mama bilang lagi sakit

Mata berembun melihat bapa tidak bisa lagi diajak komunikasi


Ya Rabb...kuatkan hamba
Tetap sabar dan sholat menjadi obat gundah atas semua yang terjadi saat ini

#masakarantinacovid

Rabu, 08 April 2020

#Dirumah Saja, Karena Corona

Sudah 3 minggu  lebih di rumah aja
Mulai kangen banget keluar rumah 
Kangen sama ketenangan hati tanpa was2 dan takut sama virus cirona
Kangen liat suami ke mesjid sholat jamaah
Kangen sama kajian di mesjid 

Kapan ini berakhir?
Ga tau
Hanya Allah yang tau


Senin, 23 Maret 2020

Corona


Ya Rabb hamba mohon ampun
Setakut dan sekalut ini dalam menghadapi cobaanMU

Baru kali ini aku mengalami lajian di liburkan
Sholat jamaah dan jumatan di tiadakan
Dan orang dilarang keluar rumah

Rabb... virus ini makhlukMu
Kecil, tak tampak tapi kami tak berdaya

Rabb...aku tau semua ujian ini karena dosa kami semua
Kami tak sanggup menghadapi ini tanpa pertolongan dan lindunganMu

Astagfirullah...
Ampuni kami ya Allah

Rabu, 29 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Delapan Belas 18


Seharian kemaren hati saya sendu milihat kesedihan mama. Berawal kemaren malam sepupu saya tlp untuk mengabarkan, bapaknya kritis. Om gendut saya memanggilnya dan itu kakak mama. Mama sempat bicara dengan om mengatakan minta maaf karena udah lama ga bisa mengunjungi karena mama juga sakit untuk duduk dan berjalan aja susah. Mama bicara sambil nangis, dan om membalas dengan bergumam karena sudah tidak bisa bicara lagi. 

Mama tipe orang yang galak, kuat dan tangguh. Sangat jarang saya melihat mama menangis tapi kemaren melihat mama bgitu sendu dan menangis saya juga ikutan nangis. Mama dan abang nya ini umur nya beda jauh 10 tahun lebih, tapi mereka dekat, anak om sering becandain mama dengan mengatakan mama adik kesayangan. Saya juga dekat sama om, kami sering ke rumahnya di kampung, yang saya ingat om suka memberi kami uang istilahnya teng teng.

Saya merenung ternyata begini klo sudah tua, saling merindukan saudara, bagaimanapun ikatan darah itu kental tak akan tergantikan walaupun masing-masing sudah punya keluarga sendiri. 

Saya jadi ingan tulisan ustad Faudzil Adhim, "hubungan saudara tak menjamin kita bisa bersama di surga, tapi menyambung hubungan silaturahmi tegas tuntunannya, berharap dengan tetap terjalinnya silaturahmi bisa tetap bersama mendekat kepada aqidah yang lurus dan agama yang haq"

Saat menulis ini di hp, muncul tlp yang mengabarkan om mustapa telah berpulang, innalillahi wainna illaihi rajiun. 

إِنَّ ِللهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ.

“Sesungguhnya adalah hak Allah untuk mengambil dan memberikan sesuatu, segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang telah ditentukan, oleh karena itu bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah (dengan sebab musibah itu).” [HR. Al-Bukhari no. 1284 dan Muslim no. 923]

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَه وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه وَأَكْرِمْ نُزُلَه وَوَسِّعْ مُدْخَلَه وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِه وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ وَأَعِذْه مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ عَذَابِ النَّارِ

Selasa, 28 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Tujuh Belas 17


Tadi siang saya melihat yutub tentang hijrahnya seorang chef Haryo. Saya tau chef ini karena zaman dulu sering liat di tv. Sekarang penampakannya berbeda dari yang dulu saya liat. Klo dulu keliatan gaul sekarang lebih tenang dan ucapannya penuh hikmah. Ia hijrah disaat sudah memiliki segalanya di dunia, kemudian jatuh sakit dan kehilangan segalanya. Yang membuat ia menyesal dulu hidupnya tanpa iman. Sekarang hidupnya lebih tenang walaupun secara dunia orang melihat ia tidak seperti dahulu. 

Saya follow teman di fb, ada yang bikin saya mbatin dengan statusnya. Sering banget sinis dengan agama islam, yang mengatakan budaya arab lah, semua serba syariah lah dll. Padahal dia juga agamanya sama. Adaikan dia melihat kisah hijrah beberapa orang yang dulunya bergelimang dengan kenikmatan dunia dan kemudian hijrah, semua mengatakan menyesal dulu tidak belajar dan tidak mengenal agama.

Ya inilah kenyataan dunia, ada yang menyesal telat mengenal agama tapi ada juga yang kerjaannya sinis dengan yang berbau agama. 

Zaman perang pemikiran begini memang harus banyak berdoa semoga Allah jaga hati kita untuk tetap dalam keimanan dan keteguhan agama islam. Aamiin. 

Minggu, 26 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Enam Belas 16


Tadi pagi saat kajian rutin dengan umi Yunengsih, dengan tema tasbih, saya dapat ilmu baru. 

Diatara keutamaan bertasbih, ada satu hadist yang meriwayatkan bahwa ; Barang siapa mengucapkan, subhanallahil azhim wa bihamdihi, di tanam untuknya pohon kurma di surga" 

Sebagai seorang pecinta tanaman dan berapa kali menanam pohon kurma tapi belum berhasil, hadis diatas seperti memberi harapan yang membahagiakan, dengan kata lain, ga apa2 ga bisa nanam pohon kurma di dunia yang penting di surga Allah menjanjikan akan menamkan pohon kurma di surga. Masya Allah surga lho, ga ada bandinganya dengan dunia. 
Makanya jangan lupa dan istiqomah untuk memuji Allah dengan bertasbih ( ngomong ke diri sendiri) 

Rabu, 22 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Lima Belas 15

Setelah seminggu di buat ge er 
Ternyata belum rezeki lagi

Kuatkan hati
Ini bukan masalah setahun dua tahun tapi belasan tahun
Selama ini aku bisa dan baik baik saja

Kecewa boleh
Menulis di sini sebagai salah satu obatnya 
Setelah itu tetap semangat
Jangan hilang sabar dan syukurnya
Ada Allah...
Seperti yang sering aku tanamkan di hati
"Terserah Allah aja mau apakan hidupku, insya Allah aku ikhlas dan ridho, yang penting Allah selalu bersamaku dan pasti tau yang terbaik buatku"
Bagiku itu sudah cukup untuk menguatkanku
🙂💪

30 Hari Bercerita, Empat Belas


Misalkan dalam suatu perkumpulan lingkaran pertemanan ada 30 orang, berapa orang yang kita dekat?

Klo untuk saya, paling hanya bisa dekat sama satu atau dua orang, jarang yang bisa banyakan, why? Gau tau juga sayah kenapa 😀

Klo dalam agama, ada hadist yang pernah saya baca, bahwa ruh-ruh itu seperti pasukan yang di himpun dalam kesatuan-kesatuan. Yang saling mengenal diantara mereka akan mudah saling tertaut. Yang saling merasa asing diantara mereka akan mudah saling berselisih ( HR Muslim, No 6376).

Penjelasannya menurut ustadz Salim, "Mereka yang taat kepada Allah akan mudah dipertautkan dengan sesama hamba yang taat, dan dipisahkan dengan yang durhaka".

Jadi kesimpulannya, klo kita taat dan baik Allah pertemukan dengan orang baik dan sholeh begitu juga sebaliknya, jadi ga ada cerita pembenaran misalnya, saya udah baik tapi teman-teman saya yang ga baik, itu sama aja ngeles, klo istilah anak sekarang satu frekuensi. 

So... jangan malas jadi orang taat dan baik, karena itu seperti magnet yang akan mengundang orang baik lain untuk mendekat. 

Selasa, 21 Januari 2020

30 Hari Bercerita, 13 Tga Belas


Pagi ini aku membaca poatingan ustadzah Halimah yang kalimatnya bagus dan hikmahnya dalam 

"Maka terhadap semua rasa, biasa biasa sajalah"

Ya benar kadang kita suka terbawa perasaan klo sedih, kecewa atau galau, padahal semua rasa itu selama di dunia sifatnya sementara
 Hari ini kita sedih besok bisa jadi kita bergembira, hari ini kita kecewa bisa jadi besok kita suka cita. Termasuk benci dan cinta.

Mari kita belajar biasa biasa aja terhadap.semua rasa, apapun itu.

Jumat, 17 Januari 2020

30 Hari Bercerita,.Dua belas 12


Hanya Pms yang bisa membuat seorang wanita menangis tanpa sebab.
Hanya Pms yang bisa membuat emosi ga karuan

Astagfirullah, Ya Rabb..ampuni aku

Sampai sekarang suamiku menolak teori Pms, katanya itu bisa dikendalikam dengan dzikir dan doa. 

Aku percaya tapi aku juga percaya teori kesehatan, jadi gimana donk 🙂

30 Hari Bercerita, Sebelas 11


" Dalam status sosial media seperti facebook, ig, orang banyak tidak menampilkan versi asli dirinya, sudah di perbagus tapi dalam mesin pencarian goggle orang tidak dapat berdusta, itulah kejujuran dalam dirinya"
(Every Body Lies, Seth Stephens)

Saya baca kalimat diatas langsung senyum, iya sih, masa mau bikin status yang aneh2, lebih baik bikin status positif, aman atau motivasi. Klo untuk pencarian goggle, emang pengen cari info apa yang kita mau, lagian orang juga ga tau apa yang kita cari. Kecuali mesin para analis data goggle.

Sekarang lg trend orang bicara big data, bagi saya yang gaptek hal2 kecil bisa bikin saya melongo, lagi cari baju dan tas di google eh ga berapa lama ketika saya membuka laman lain muncul banyak iklan yang berhubungan dengan baju dan tas yang belum berapa lama saya cari. Saya merasa kok pintar amat sih internet ini tapi rasanya dia menghantui dan mengikuti saya terus, tau aja apa yang saya mau 😀.

Itu baru akal manusia cctv nya Allah lebih canggih lagi setiap detik apa yang kita lakukan ada catatanya, niat kita yang tidak tersirat pun Allah tau. Jadi takut mana cctv Allah apa manusia? Bagi saya ilmu dunia itu semakin dalam kita pelajari semakin bertambah kekaguman dan keyakinan kita pada Allah. Masya Allah...


Selasa, 14 Januari 2020

30 Hari Bercerita, 10 Sepuluh


Bulan lalu saya sempat keluar kota pergi hanya bersama sohib zaman sma dulu. Dan ini pertama kalinya saya pergi sesudah menikah hanya dengan teman yang tujuannya cuman pengen ngumpul. Rencananya mendadak begitu di kabarin pagi hari siang saya udah harus ambil keputusan karena berangkatnya besok siang.

Ga sempat mikir lagi gimana2, cuman ragu, my boss izinin ga ya, eh ketika saya wa dia kasih izin dengan beberapa pertanyaan. Jadilah besok saya bertiga ke Bandung, ada yang dari Jambi dan Pekanbaru. Ketika ketemu dan ngobrol rasanya seperti saya masih umur belasan dan masih sma.  

Saya mikir seawet ini ya perjalanan pertemanan, padahal selepas lulus komunikasi kita ya biasa aja ga intens, paling koment di group kelas jarang yang langsung telp dan japri2.

Teman saya emang ga banyak tapi yang sedikit itu akrab dan awet, soalnya saya sendiri susah untuk langsung akrab dengan orang baru, paling ga bisa membuka obrolan baru paling perbanyak senyum. 

Hari pertama pas nginap, saya sekamar sama Desi dan kita ngobrol sampai malam, sesuatu yang bukan kebiasaan saya banget yang jam 8 udah tidur. Rasanya obrolan ga habis2,cerita tentang keluarga (mama papa adik dan kk ) yang mendominasi. Sekangen itu rasanyaa dan pengen update semua berita kehidupan. 

Setelah dua hari bersama mereka, ngumpul, makan dan jalan, saya merasa fresh, ternyata perlu sekali2 saya untuk keluar dari rutinitas selama ini. Jika selama ini berkutat dengan suami, keluarga dan pekerjaan perlu sejenak menjadi seperti seorang anak sma masa lalu walaupun umur sudah menjadi emak seorang pelajar 😀

Trus setelah kita ngumpul kita kembali ke kehidupan masing2, ga tlp dan japri wa juga paling hanya sekali2 koment di group, ternyata untuk tetap terkonek hati dan jiwa itu ga perlu harus selalu keep in touch, yang penting perasaan dan perhatian terhadap teman itu tetap ada. 

Tentu saja kita sekarang lebih banyak berkomunikasi dengan teman yang berada dalam lingkaran hidup kita saat ini karena kita banyak berurusan dengan mereka tapi tetap saja dalam rasa yang paling dalam teman2 lama itu mempunyai tempat yang istimewa, dulu, sekarang dan nanti. 

Senin, 13 Januari 2020

30 Hari Bercerita, sembilan 9


Saya beberapa kali dikometari klo mempunyai sikap yang santai seperti kurang greget klo berbuat sesuatu ☺.
Misalnya waktu kuliah, pas ujian teman2 lain sibuk belajar dan menghafal saya santai aja duduk liatin mereka atau waktu sma udah janjian nonton sama si doi, pas saya udah di bioskop dia datang telat cuman bilang batal nonton karena ada sesuatu, saya cuman bilang ya udah ga apa-apa ga pakai drama macam2.

Nahh yang paling gong tentu saat kondisi sekarang, disaat teman2 kuliah atau seprofesi sibuk sana sini dengan kerjaanya dan udah wow dalam menjalani karirnya saya masih gitu2 aja versi mereka, yang bikin mereka gemes saya kok tenang dan santai aja, padahal klo ukuran nilai akedemis saya punya kemampuan lebih dari mereka.

Jujur kadang saya juga bingung mau jawab apa, karakter saya emang seperti ini, orangnya selow, tenang, emang kliatan seperti ga punya cita2 atau model pekerja keras gitu ya 🤣.
Prinsip saya ngapain ribet, krasak krusuk, selama saya udah ikhtiar ya udah, klo dapatnya minim ya ga apa2 saya sudah cukup bahagia dengan hidup saya. Siapa yang ga pengen hidup yang sangat berkecukupan, ada hasil ada pengorbanan. Saya terbiasa dengan standar cukup dan apabila terjadi sesuatu di luar rencana ya berarti itu qadarullah. Terima kasih ya friends atas perhatiannya, aku emang begini adanya 😉

Bagi saya tiap orang itu mempunyai pribadi yang unik, yang penting kita menjalaninya dengan kesadaran dan bahagia. Semakin kita kenal dengan diri sendiri maka kita tau apa yang harus kita lakukan, ga perlu takut dengan komentar orang kita bukan berlomba dengan orang lain tapi kita tau apa yang kita mau,selaras dengan kesadaran pribadi kita.

Selama masih masalah dunia, cukup aja tapi klo udah masalah akhirat harus dikerjakan dengan segala daya dan upaya, kalo saya gitu sihhh. Boleh khan beda prinsip 🙂.


Sabtu, 11 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Delapan 8


Bercerita tentang dimensia membuat saya sedih. Sedih karena orang yang saya sayangi menderita penyakit tersebut eh tapi tetap itu qadarullah  wa maa syaa'a fa'ala dan sebagai muslim yang baik harus tetap mengucapkan Alhamdulillah alla kulli hall.

Sedihnya disini tentang perasaan sebagai seorang anak, melihat bapak (mertua) yang mendadak memorinya hilang, seperti orang yang berada di dunia lain. Hikmahnya jadi bisa melihat betapa hebatnya Allah telah memberikan manusia dengan segala kerumitan susanan syaraf pada otak, rumit bagi manusia awam seperti saya. 

Dengan sakitnya mama dan bapak saya melihat dua sisi penyakit yang berbeda. Bapak secara fisik sehat tapi syaraf dan psikisnya terganggu sedangkan mama secara psikis sehat tapi fisik nya sakit karena tulangnya bermasalah, kesimpulannya sehat itu harus seimbang fisik dan psikis. 

Kadang saya juga kepikiran, nanti klo umur saya sampai lanjut saya seperti apa ya, menderita sakit apa? Pertanyaan ini sering ditepiskan oleh suami dengan mengatakan pasrahkan semua kepada Allah , jangan berandai andai perbamyak doa saja. Seketika langsung berhenti membayangkan hal tersebut.

Bagi anak ini adalah ujian dan dituntut kesabaran tingkat tinggi, karena orang tua yang sudah berusia lanjut sikap dan tingkahnya akan kembali seperti anak kecil lagi. Bagi saya sendiri andaikan bisa memberikan segalanya untuk orang tua, insyaa Allah semua akan saya berikan, tenaga, waktu dan materi. Walaupun sering juga bilang cape dan lelah, ya karena saya manusia bukan boneka yang ada batrenya 😀

Kalau dimensia bapak lagi kambuh, trus bapak nanya ini lagi dimana, apa yang terjadi, itu siapa, rasanya seperti patah hati, kangennn bisa ngobrol2 lagi seperti dulu. 
Ketika saya tau bapak sakit dimensia dan saya baru mendengar nama penyakit itu, langsung sibuk googling kemudian beli buku tentang dimensia. Berharap dengan banyaknya info yang saya terima saya bisa menangani dan memperlakukan bapak dengan benar sesuai dengan kondisinya, walaupun membaca.buku tersebut sampai sesak nafas karena sedih dan tau betapa ngeri efek dimensia tersebut. 

Ini salah satu catatan perjalanan hidup yang harus di jalani, Allah sebaik baik pembuat rencana. Ga tau hikmahnya aekarang, mungkin besok2 jadi tau, klo pun akhirnya ga tau ya ga apa2, percayakan dan pasrahkan sama Sang Maha. 

Rabu, 08 Januari 2020

30 Hari Bercerita, ke 7


Setelah tiga tahun kebelakang kegiatanku diisi dengan rutin mengikuti taklim, tahun ini aku ingin taklim yang kuiikuti membekas alias nampol di kalbu. Jangan sampai teori yang masuk banyak, praktek kurang apalagi hanya sambil lewat saja dan kemudian lupa.

Yang kurang dariku adalah murajaah ilmu, kitab atau buku yang sudah dipelajari ada beberapa yang sudah khatam tapi ketika di tanya lagi aku sudah lupa, apa yang diajarkan sudah berapa persen yang di praktekkan, belum lagi hapalan ayat dan hadist yang tidak seberapa sudah banyak lupanya klo harus diulang. Jadi tahun ini aku ingin taklim tidak hanya sekedar pergi, duduk, nyatat kemudian pulang trus catatan ga pernah dibuka lagi. 

Hapalanku juga cendrung menurun beberapa bulan ini, selain waktu lebih banyak ngurus mama ketika istirahat dan waktu luang banyak kupakai membersamai hp. 

Yukk ahhh Bismillahirrahmanirahim, menuju 2020 dengan mengisi waktu yang berkualitas, insya Allah...

Senin, 06 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Enam 6


Hellow 2020

Saya udah lama banget ga bikin resolusi lagi. Dulu rajin di catat di buku apa aja resolusi tahun ini, 5 tahun dan 10 tahun kedepan. Sepertinya ini pengaruh bacaan zaman kuliah tentang motivasi dan buku kang abik ayat ayat cinta. Sebenarnya bagus juga sih kebiasaan seperti itu karena dengan tercatat kita tau maunya kita seperti apa dan lebih terarah mau di bawa kemana tujuan kita.

Trus kenapa sekarang saya ga bikin lagi? Jujur dulu target saya banyaknya tentang dunia biasalah anak muda kurang tarbiyah 🙂walaupun ada satu dua tentang akhirat terutama soal peningkatan ibadah. Sekarang saya bosan klo hidup banyak di target hanya tentang dunia aja apalagi selama penantian 16 tahun ini keinginan yang saya impikan belum tercapai. 

Apakah saya terluka dan kecewa?  Entahlah, hanya satu yang paling saya rasakan, sebagus apa pun rencana dan ikhtiar saya jika Allah belum berkehendak, hasilnya nol.
Sekarang saya lebih pasrah dan tawakal kepada Allah dan lebih selow dalam menghadapi hidup, rencana tetap saya susun dalam hati, usaha saya lakukan semampu saya jika dalam pelaksanaanya banyak hambatan ya sudah itu namanya qadarullah. 

Seperti kondisi 6 tahun terakhir disaat mama sakit kegiatan saya langsung berganti hanya dengan mengurus mama. 

Apakah saya sedih dengan kondisi saya? Awalnya iya tapi setelah saya banyak belajar ilmu agama, rutin taklim, saya jadi tau yang mana sesungguhnya prioritas hidup saya, apalagi sudah ada contoh di zaman tabiin tentang kisah uwais al qarni. Saya benar benar termotivasi dengan adanya kisah itu, saya sekarang tau pada akhirnya tujuan hidup itu seperti apa, menjalaninya harus seperti apa, dan skala prioritasnya seperti apa. 

Apakah sekarang hidup saya bahagia? Klo standar bahagia artinya senang terus, berarti jauhhh. Sekarang yang saya cari berkah. Jika dalam prosesnya saya banyak jatuh, sakit dan penuh air mata, saya terima dengan senang hati. Sekarang yang saya dapatkan ketenangan dalam menjalani hidup ini. Ketika kita lagi susah dan kita menjalani dengan tenang dan sabar bagi saya itu nikmat banget. Mau apa lagi karena sunatullah hidup itu penuh ujian, hadapi saja dengan panduan hukum Allah, biidznillah, insyaa Allah semoga Allah ridho dengan apa yang telah kita lakukan dan rencanakan. 

Minggu, 05 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Kelima


Kini aku tau apa yang membuat aku tenang walau kadang itu merepotkanku, menghentikan kegiatanku dan menghabiskan waktuku.

Aku mau melakukan segalanya, baik tenaga, waktu dan uang.

Kadang untuk pergi sebentar saja aku takut, khawatir kenapa kenapa.

Mungkin seperti ini yang dulu mama rasakan ketika mengurus aku.

Semoga sehat, sabar, ikhlas dan kuat ya mam.
Ada aku disini yang insya Allah akan menjaga mama sepenuh hati dan jiwaku, love you cause Allah.

Sabtu, 04 Januari 2020

30 Hari Bercerita, Keempat


Sekarang aku khawatir klo cuaca dingin. Dingin membuat tulang mama kesakitan dan nyeri. Biasanya sambil dzikir mama menjerit menahan sakit. Pada bagian ini aku seringkali ga kuat menahan air mata didepan mama. Hanya bisa berdoa sambil memberi salep obat nyeri.

Januari termasuk musim hujan dan cuaca  dingin, andaikan ada mesin pemanas ruangan tentu ini bisa menjadi solusi, sayang mesin ini biasanya ada di negara yang mempunyai musim dingin.

Sering saya memohon kepada sang Maha Penyembuh agar mama diberi kesabaran, ikhlas dan kuat atas sakitnya. Rasanya ga tega dimasa tuanya mama harus menanggung rasa sakit  sampai mengeluarkan air mata.

Minta sehat ya Rabb...agar bisa beribadah dan melakukan kebaikan dengan paripurna. 



30 Hari Bercerita, Ketiga

Alhamdulillah Alla Kulli Hall (Segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan)

Ga tau bagaimana sedihnya hati ini liat kondisi banjir yang melanda jabotabek. Liat mobil yang terapung, orang mengungsi sampai atap, jalanan serta rumah yang hancur, subhanallah 😪.

Disaat hati sedih, aku banyak membaca di sosmed orang yang menghujat dan menyalahkan gubernur anies, aku lewatkan saja berita itu karena toxin bagi jiwa. 
Ketika membuka wa disalah satu grup eh ada juga yang membahas masalah anis vs ahok, gemess pengen komentar juga.

Aku termasuk orang yang ga ngikutin berita politik entahlah kenapa sekarang aku udah ga minat mungkin sudah lewat masanya dulu zaman kuliah aku mencermati setiap berita politik berlangganan koran, majalah serta membaca buku tentang politik, sekarang who care aku muak dengan kondisi saat ini.

Akhirnya aku terlibat juga dalam obrolan itu, untungnya sebelum jauh terlibat aku bisa berhenti karena yang di bicarakan tentang personal bukan suatu konsep. Klo bicara personal aku angkat tangan rasanya kok sok tau banget komentarin orang lain, klo dikatakan ahok didepak karena agama trus di gantikan yang ga bisa kerja aku ga mau koment juga, klo bicara konsep, bagaimana dulu dan sekarang serta kelebihan kurangnya aku mau. 
Cuman mau bilang aja sama mereka yang sekarang banyak menghujat, pleaseee hujatan itu tidak membantu korban, hanya menambah luka saja. Jika tidak bisa membantu lebih baik diam. 

Emang sekarang orang pada aneh2, musibah gini bukanya saling membantu eh ini malah sibuk saling menyalahkan,.mbok ya tahan dulu saat nanti kondisi sudah tenang.
Ya itulah seperti kata bu mentri, jangan pernah lelah mencintai Indonesia, hanya saya lelah liat kelakuan netizen Indonesia 🙃.



30 Hari Bercerita, Kedua



Alhamdulillah akhirmya suamiku selamat sampai rumah sebelum jam 9 di malam tahun baru.

Karena tidak ada yang istimewa bagiku, jam 10 kami tidur, menjelang tengah malam aku kebangun karena hujan bertambah deras dan ga berhenti henti. Ketika di cek keluar rumah, dipekarangan air deras  mengalir tapi tidak menggenang, ga berapa lama muncul dentuman keras, ku pikir ada yang jatuh di rumah eh ternyata setelah melihat kilatan api baru tau itu kembang api dan sekarang menunjukan tepat pukul 12.00. 
Ya rabb... hujan hujan begini ternyata mereka tetap merayakan malam tahun baru. Kemudian balik ke kamar tapi ga bisa tidur karena memikirkan klo besok masih hujan gimana mau jemput mama ke bandara, berharap semoga tidak banjir di jalanan. 

Jam 2 malam kebangun lagi dan hujan masih deras, langsung ambil hp dan cari info berita, ternyata beberapa kawasan Bekasi dan Jakarta sudah kena banjir. Duhh gimana caranya mau ke bandara pikirku. 

Setelah subuh ku coba telp abangku mau menanyakan kepastian mama berangkat apalah jadi atau di tunda. Dua kali telp ga diangkat akhirnya aku hanya bisa menunggu. Baru setelah jam 8 abangku telpon dan memastikan mama tetap berangkat karena disana cuaca cerah. Gimana caranya mau jemput, aku sudah terjebak di dalam rumah, jalanan untuk keluar rumah sudah banjir. Di berita online dan tv memberitakan banjir yang dahsat sampai banyak rumah kebanjiran sampai atap. Akhirnya ku tlp dua kakak ku dan mereka bersedia memjemput. Menjelang sore ternyata kakak ku yang satu tidak bisa menjemput karena air sudah masuk rumah dan Alhamdulillah kakak ku yang satu yang rumahnya dekat bandara sudah memastikan bisa menjemput mama.

Jadilah di tahun baru aku stag di rumah, menonton tv dan membaca berita dengan sendu. Tengah malam kakak ku kasih kabar kalau air di bawah sudah sekitar 2 meter dan barang banyak yang tidak selamat. Astagfirullah tambah nyeri hatiku. Ponakanku yang nginap di rumah nangis dia cemas membayangkan kondisi bunda dan abangnya serta sedih bagaimana sekolahnya jika buku dan alat sekolah banyak yang hanyut. 

Qadarullah wa maa sya'a fa'al (Allah telah menakdirkan apa yang ia kehendaki).