Kamis, 23 Mei 2019

Jangan Suka Berbohong #repost tulisan Tere Liye


Lagi-lagi repost tulisan Tere Liye, yahh lagi suka aja dan pas momentnya disaat lagi bingung dan gemes liat situasi Jakarta berapa hari ini.

Sedih liat Jakarta yang rusuh berapa hari ini, kerugian pasti banyak. Ga hanya materi, korban jiwa pun ada. Apalagi korban perasaan 😊

Saya ga bisa menyalahkan dua pihak, karena setiap orang punya alasan pembenar kenapa mereka berbuat seperti itu.

Hanya mencoba saling mengingatkan dan merenungkan, apakah yang di lakukan ini lebih banyak manfaat apa mudharatnya? Apakah ini baik menurut Allah apa ga?

Saya ga punya pertimbangan lain selain agama, karena dasar atau pegangan hidup saya, ya agama.

Semoga tidak ada kecurangan, semoga tidak ada fitnah, semoga tidak ada saling tuduh. Semoga yang ada hanya kebaikan, saling jujur, saling menghargai dan saling mencintai karena Allah.

Saya mencintai indonesia ini seperti saya mencintai kebaikan-kebaikan. Mari kita mulai dari kita dulu, satu langkah kecil untuk kebaikan sangat berarti untuk Indonesia tercinta.

Jangan terlalu menyanjung manusia. Jika memuji, pujilah Allah yang telah menutup aib dan dosa, karena sejatinya manusia itu tempatnya dosa dan khilaf.
Barakallah fiikum

*Jangan suka berbohong....

Apa itu bohong? Kita semua tentu tahu definisinya. Anak kecil saja tahu.

Apakah kita suka berbohong? Nah, yang ini lebih rumit menjawabnya. Rata-rata kita semua enggan disebut sebagai pembohong, tanpa menyadari, boleh jadi, kita sudah masuk kategori tersebut. Oh ya? Yeap, di tengah hiruk-pikuk media sosial hari ini, jangan2 kita sudah masuk kategori itu.

Ada sebuah hadist yang menarik sekali direnungkan: "Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan." (HR Muslim No. 6).

Baca kalimat hadist itu sekali lagi. Camkan baik2, dan ingat: kalimat itu bukan karangan  Tere Liye, tapi keluar dari mulut Nabi, hadist yang kelasnya sahih.

Saat seseorang selalu menceritakan apa yang dia dengar, dikit2 dia share, dikit2 dia posting, semua dia bagikan, bahkan meskipun saat dia share dia kasih keterangan: 'entah benar atau nggak sih ini', maka jangan2 dia telah masuk kategori pendusta.

Ngapain sih kita harus bergegas share, posting, bicarakan hal2 yg kita dengar? Lebih naif lagi saat di share, dia tulis pula 'tolong dicek kebenarannya'. Dasar si tukang rusuh, kalau ente belum tahu kebenarannya, maka jangan dishare. Ini malah di share kemana2 duluan, terlanjur orang lain jadi ikut baca, dan kemudian share lagi. Ketahuilah, setiap kali sesuatu itu tiba di HP kita, maka ada dua pilihan di tangan kita. Berhenti di HP kita, atau kita teruskan ke orang lain.

Maka sesemangat apapun kita, seemosional apapun kita, jangan buru2 hajar share, buru2 bagikan. Bahkan kalaupun isinya sangat menyakinkan, foto2nya seperti asli, videonya seperti sempurna; belum tentu juga benar. Hari ini, ada video (misalnya), orang jatuh di parit, lantas digebukin, dikasih judul maling dipukuli; belum tentu fakta sebenarnya itu memang maling yg sedang dipukuli. Boleh jadi dialah pemilik toko yang kemalingan, jatuh diparit saat mengejar malingnya. Tidak semua video di youtube itu kebenaran. Tidak semua berita yg dishare di whatsapp itu kebenaran. Tidak semua. Bahkan sorry to say, saya mencoba men-scroll home facebook hari ini, saat bertemu share berita, video, foto, 90% isinya sampah. Sy mencoba mengunjungi website2 yg banyak penulisnya, duh, isinya penuh pendapat sepihak, subyektif, dan sangat politis.

Nah, kalaupun kita yakin sekali semuanya kebenaran, kita yakin sekali semuanya suci tak bernoda, maka ingatlah kata Nabi, cukuplah seseorang dianggap berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan. Ngapain pula harus kita ceritaka semua yang kita dengar? Ngapain pula kita harus share semua?

*Tere Liye

**biasanya sih banyak yg baper. sampai lupa, ini hadist nabi. nah buat yg baper, berhentilah kalian sibuk nge share semua hal.

Rabu, 22 Mei 2019

"Defisit Kreatifitas" #repost tulisan Tere Liye

Repost tulisan ini karena saya sukaaaa 😍 soalnya bikin semangat karena menulis jadi salah satu bagian terpenting dari sebuah kreatifitas. Ingat ya, literasi itu penting, menulis dan membaca ga akan mati oleh zaman.

Tapi bagi saya, suka menulis itu ga harus jadi penulis, tapi klo soal hoby baca itu harus, selain nambah ilmu biar kita bisa lihat sesuatu dalam hidup ini dengan banyak cara pandang dan ga kemakan hoax yang bertaburan setiap hari di kehidupan kita.

Apalagi ini zaman yang gadget sama pentingnya dengan makan, orang terbiasa menulis status, komen, dan nge vlog. Klo kita terbiasa membaca dan menulis dengan baik berdasarkan ilmu tentu hasilnya beda dan berkualitas ga seperti isi berita online zaman sekarang yang heboh di judul tapi zonk di isi. Mau koment juga hati hati dan bahasanya bukan seperti netizen yang maha benar. Atau lebih pedas dari cabe. Intinya itu sih. Ilmu. Mari jadi generasi milenial yang cerdas atau bagi yang generasi old, jangan sampai kelakuan sama dengan yang milenial setidaknya sedikit lebih cerdaslah biar bisa jadi contoh 😉.

Salam literasi kuy 😊

*Defisit Kreativitas

Di tengah hiruk-pikuk pilpres, klaim sana-sini, elit bermunculan di televisi, media, saling komen, berisik sekali, semoga masih ada yang mau melihat data terbaru tentang defisit neraca perdagangan Indonesia bulan April 2019.

Apa itu neraca dagang? Simpel. Berapa banyak yang kita jual (ekspor) dibandingkan yang kita beli (impor). Dalam hal ini perdagangan ke luar negeri. Menurut laporan BPS, April 2019, Indonesia ekspor 12,6 milyar dollar, sementara impornya 15,1 milyar dollar. Maka setelah dihitung selisihnya, itu berarti kita defisit sebesar 2,5 milyar dollar. Lebih banyak beli dibanding jual.

Angka ini tentu tidak sesederhana yang dilihat, harus ditelaah secara lebih detil, dibandingkan dengan periode sebelumnya, dilihat per jenis ekspor-impornya; tapi terlepas dari itu semua, angka 2,5 milyar dollar ini tidak main-main, itu setara 35 trilyun rupiah, dan merupakan rekot defisit paling parah sejak tahun 1945. Alias sejak Indonesia merdeka.

Kenapa jadi defisit? Kata salah-satu pejabat, hal ini disebabkan karena Ramadhan dan Lebaran, kita banyak impor. Kata pejabat lainnya, karena efek pemilu, jadi banyak keputusan bisnis tertunda. Kata pejabat lainnya, karena ekonomi dunia sedang ketat, ekonomi global melambat, harga komoditas menurun. Well, tentu banyak memang versi argumennya, bahkan ada yang bisa bilang: karena Son Go Ku dan Bezita masih berantem, atau juga karena geng Wowo dan geng Wiwi masih rebutan mainan. Guling2 di pasir. Bisa semua. Tapi pegang kata2 saya, tidak akan ada yang bilang: “karena salah saya yang tidak becus.” Tidak ada yang secara jantan mau bertanggung-jawab. Misalnya, saya Tere Liye sebagai penulis, saya seharusnya bisa ekspor buku ke luar negeri sebesar 2,6 milyar dollar, tentu jadi surplus tuh neraca. Bukan cuma translate buku ke negara2 lain, eh tidak laku. Nasib. Ini jelas karena Tere Liye tidak becus jadi penulis.

Eh baiklah, sebelum malah kemana2, mari kita langsung saja ke poin catatan ini. Bahwa poin dari catatan ini ada dua. Satu, saya sedang mengedukasi banyak orang tentang situasi terkini. Tidak semua orang ngeh dan tahu soal defisit neraca dagang. Karena cepat atau lambat, jika defisit ini terus membesar, si defisit ini akan menjalar kemana2. Termasuk bahkan urusan harga tempe dan tahu. Kedua, saya sedang menghimbau semua orang agar terlibat dalam memerangi defisit neraca dagang. Mbok ya mari kita pindahkan energi bertengkar menjadi energi poisitf. Mari semua memikirkan solusi, termasuk saya, sebagai penulis, juga mikir solusinya.

Sebab saya tengok itu data detil defisit, maka lihatlah, ekspor terbesar kita itu masih saja itu-itu melulu. Bahan bakar mineral, kelapa sawit, besi dan baja, karet, itu-itu saja. Sementara saya tengok itu film Avenger Endgame. Sialan (maaf), itu film ternyata sudah laku 2,5 milyar dollar (dari 20 hari rilisnya). Apes betul kita ini bro, sis. Kita sibuk ngedukin tanah, sibuk merusak hutan, orang lain cuma bikin film, cukup satu doang filmnya, dia langsung ngembat uang sebanyak itu. Catat: cukup satu film doang. Apalagi kalau dihitung banyak film.

Maka semoga kalian, anak-anak muda, memahami pesan tersembunyi dari catatan lebay dan receh ini--selain tentang pesan ‘tidak becus’-nya tadi. Masa depan itu bukan di ngerusak hutan, ngedukin tanah, masa depan itu di industri kreatif. Termasuk pak pejabat dan bu pejabat, semoga kalian juga mau melihatnya. Marilah kita berikan insentif yang sungguh2 kepada industri kreatif. Tidak hanya tol darat, tol laut dan tol langit yang dibutuhkan, industri kreatif juga butuh tol. Mau tahu mahkota industri kreatif? Adalah: menulis. Film, butuh skenario, butuh tulisan. Lagu, musik, butuh not, lirik, juga tulisan. Aplikasi, software, butuh program, yang juga tulisan. Puisi, sajak, buku, apalagi yang ini, semua tulisan. Kreatifitas membutuhkan keterampilan menulis. Keterampilan menulis membutuhkan kemampuan membaca. Itu semua adalah tentang literasi.

Lihatlah dunia berubah 10-20 tahun terakhir. Ini kesempatan yang brilian sekali. Siapapun yang mau terlibat dalam industri kreatif, masa depan cerah menanti kalian. Jika hari ini kitalah yang nonton Thanos, besok lusa orang lain yang nonton film buatan kita, lantas mereka sibuk dengan spoiler, teori, heboh menonton karya kita. Kalau hari ini kitalah yg sibuk ngutip2 serial televisi dalam pidato kita seolah itu keren sekali; maka semoga besok giliran orang lain lah yang menyebut2 sinetron kita dalam pidato kenegaraannya. Mereka mengutip dari Sinetron Tersanjung Season 100.

Begitulah. Menurut hemat tulisan receh dan unfaedah ini, sungguh tidak jaman lagi memakai rumus masa lalu dalam menghadapi perekonomian masa depan. Karena kuncinya sudah beda. Kurikulumnya sudah beda. UN-nya juga beda. Kita membutuhkan orang2 dengan visi cemerlang. Semoga, kita tidak hanya jadi penonton saja (sambil terus sibuk bertengkar).

@Tere Liye

Surat Asy-syuura ayat 19


Masya Allah, lagi ngaji di pagi hari sampai di ayat ini dan kemudian baca artinya, langsung meleleh, karena pas banget dengan suasana hati.

"Allah maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya, dia memberi rizki kepada siapa yang di kehendaki-Nya dan Dia-lah yang Maha kuat lagi Maha perkasa"

Baca kata lembut aja udah bikin saya kagum dan bergumam, Ya Allah, kata ini bagus banget, biasanya saya klo kagum sama orang yang halus perasaan dan baik, suka bilang, "lembut banget orang nya", bayangkan ini Allah dan Dia lembut kepada semua makhlukNya.

Penjelasan ayat ini dari tafsir Ibnu Katsir:

Allah memberitakan tentang kemahalembutan-Nya terhadap makhlukNya dalam memberikan rizki kepada mereka hingga akhir, di mana Dia tidak melupakan seorang pun diantara mereka, baik orang yang berbakti maupun  orang yang durhaka.
Seperti yang Allah sebutkan dalam surat Huud 6:
Dia memberi rizki kepada siapa yang di kehendakiNya, yaitu, Dia melapangkan (bagi) siapa saja yang dikehendakiNya.

Jujur kondisi hati saya ketika lagi tilawah sedang galau, banyak pikiran karena banyak kebutuhan dan kondisi yang sedang ada ujian, pas baca ayat ini langsung meleleh, Allah seperti sedang langsung menegur saya dengan mengatakan Allah maha lembut, dia akan memberi rezeki kepada siapa yang di kehendakiNya. Kenapa juga saya harus sedih, cukup tawakal dan berdoa agar Allah mencukupkan dan menyelesaikan segala urusan saya.

Astagfirullah, emang gini klo iman ga seberapa, apa apa di bawa galau 😢.
Ini semacam teguran dari Allah agar saya lebih bertakwa dan tawakal. Biidznillah...

"Jangan Ceritakan" #repost tulisan Tere Liye


Suka sama tulisan ini, bisa jadi tidak semua setuju dan sepaham dengan bang tere, bagi saya, its ok, untuk jadi bahan renungan dan pengingat, jarang ada yang bahas tema seperti ini dengan serius dan konsisten bertahun tahun 😊

Klo saya tetap suport segala sesuatu yang membawa kebaikan, walaupun rasanya perih dan sangat menyindir 😀

*Jangan ceritakan....

Kalian punya mobil mewah seharga 1 Miliar? Tahaaan dulu keinginan kalian posting pamer. Kalian punya rumah megah 10 Miliar? Ups, tahaan dulu nafsu pamernya. Punya baju baru, lagi jalan2 di manalah, sebentar, tahan dulu heboh ingin lapor ke seluruh dunia.

Karena ketahuilah, dulu, ada seorang anak muda, dia bermimpi menjadi orang hebat sekali (bukan cuma punya mobil mewah, rumah megah, jalan2 kemanalah), tapi dia justeru disuruh diam saja.

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”  Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.” (Al Qur’an Surah Yusuf Ayat 4-5)

Lihat potongan kalimat di atas. Itu bukan karangan Tere Liye, itu adalah kalimat Tuhan di kitab suci. Bahwa, dulu pernah ada anak muda, namanya Yusuf, dia bermimpi sebelas bintang, matahari dan bulan sujud padanya. Wah, kalau kita yang mimpi begitu, mungkin sudah heboh sekali cerita kemana2, ke keluarga, ke teman, bahkan ke seluruh galaksi Bima Sakti. Tapi apa kata Ayahnya, tutup mulutmu. Jangan ceritakan. Padahal itu Yusuf loh, yg sejak kecil dididik langsung oleh ayahnya Nabi Yakub, pasti hatinya bersih, niatnya pasti mulia kalau dia cerita. Yusuf tetap dilarang cerita oleh Ayahnya.

Maka, tidakkah kita mengambil sebuah hikmah luar biasa dari cerita nyata ini?

Ketahuilah, orang2 yang suka pamer, juga yang selalu bilang ‘saya sih bukan pamer, saya lagi menginspirasi,’ ‘saya lagi berbagi, bukan pamer’, kalian boleh jadi lupa sebuah fakta: sungguh setan itu musuh yang jelas bagi manusia. Kalian lupa kita hidup di dunia ini bukan hanya sendirian. Tidak semua orang sesuci, semulia, dan sehebat kita, yang bisa mengiris secara sempurna, membedakan pamer dengan berbagi dan menginspirasi. Di luar sana, ada manusia lain, dan juga setan. Well, baiklah, kita memang hebat sekali mengelola niat, yakin sejuta persen tidak ada riya, pamer, sombong saat posting hal2 hebat dalam hidup kita, niat kita jauh lebih suci dan hebat dibanding Yusuf, tapi ketahuilah, ada orang lain, ada setan.

Tapi, tapi, tapi kan itu bukan urusan saya. Salah mereka dong yang ngiri, sirik. Toh ini harta2 saya, toh saya memang cantique, memang ganteng, toh ini uang saya sendiri bisa jalan2 ke Mars, dll. Itu benar, sama benarnya dengan ketika Yusuf dijanjikan besok lusa akan membuat sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya. Itu hak Yusuf, dia sudah ditakdirkan jadi sehebat itu. Tapi apa kata ayahnya: tutup mulutmu, jangan cerita.

Media sosial ini memang menggoda sekali untuk posting. Dikit2 posting. Iseng, posting. Tidak ada kerjaan, posting. Wajah close up kita tak terhitung berapa kali diposting. Anak2 kita, keluarga kita, tak terhitung berapa kali diposting. Perjalanan kita. Prestasi kita. Hal2 hebat kita, diposting semua. Tentu saja boleh sesekali, namanya juga manusiawi. Tapi pahamilah, setan berkeliaran. Jangan sampai, karena hobi posting beginian, kita telah lupa, apakah itu memang pantas diposting, atau hanya nafsu kita agar tetap eksis, diperhatikan, dipuji, dilike dan dikomen orang lain. Kita memang sedang berbagi, atau karena niat lain? Kita sedang menginspirasi atau sedang tak mau kalah? Kita lupa, semua sudah dianggap kebiasaan yang baik2 saja.

Semoga tidak begitu. Semoga masih ada yang mau memikirkannya. Selalu pikirkanlah minimal dua kali sebelum mengumumkan banyak hal di media sosial ini. Apakah ini penting sekali saya umumkan? Apakah ini mendesak sekali? Atau ini hanya agar orang lain bilang wow keren. Atau ini hanya agar orang lain tahu saya sedang ngapain, saya sedang hebat loh ini. Perjalanan wisata misalnya, jika kita memang mau menginspirasi orang lain biar berpetualang, lebih baik tuliskan tips dan trik cara kita bisa ke sana, posting foto2 kerennya tanpa perlu wajah close-up kita muncul. Coba lihat, liputan2 terbaik tentang perjalanan, di majalah2 travel terkemuka, sering nggak penulisnya ikutan selfie di foto? Jarang saya temukan. Pun saat kita sedang berprestasi sekali, jika kita ingin berbagi, cukup bagikan saja informasinya, tidak perlu sampai ditambah2i quote sebagai caption: “maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”, Juga epic sekali saat melihat ada foto yang sedang pamer maksimal betapa cantiknya dia, betapa bagusnya baju dia, eh itu foto dikasih hastag: bajubarunemu, fotobarunemu, fotoisengdoang. Apanya yang iseng, itu foto jangan2 diambil minimal 20 kali, dihapus semua yang 19, baru yang 1 terakhir diposting. Kalau memang iseng, sungguh niat banget isengnya. Atau kita sudah benar2 lupa perbedaannya.

Saya tahu, membaca catatan ini membuat banyak orang tidak nyaman. Ada yang bahkan ‘benci otomatis’ dengan Tere Liye. ‘Benci maksimal’ dengan si lebay Tere Liye. Tapi kalian keliru kalau menyangka saya sedang nyinyir, julid ke kalian, catatan ini justeru sebagai upaya habis2an, agar saya ini selalu ingat tidak ikutan lebay pamer juga. Sekaligus agar sy bisa menunaikan kewajiban saling menasihati. Itu kewajiban semua orang, saling mengingatkan.

Maka, bacalah sekali lagi kalimat2 ini:

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”  Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.” (Al Qur’an Surah Yusuf Ayat 4-5)

**Tere Liye

Rabu, 15 Mei 2019

7 Ramadhan

Sabtu dini hari ngetik pesan untuk di broadcast di group2 keluarga:

Innalillahi wa inna ilaihi roojiun, telah berpulang ke rahmatullah Zwei Munichi (ochi) suami Resnawati Raflis (ires) hari minggu jam 00. 30 di Rscm
semoga rahimahullah husnul khotimah & keluarga yg ditinggalkan diberi kesabaran & pahala yg besar atas musibah ini.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Kalimat istirja', istighfar, hanya ini yang bisa terucap, walau dalam hati rasanya beratttt apalagi melihat kesedihan nires dan anak anak.

Inilah dunia, yang sifatnya sementara, inilah takdir suka atau tidak suka kita harus menerimanya. 

Awal ramadhan yang tak terlupakan, saatnya menata hati dengan lebih mendekat, mendekat, dan mendekat kepada Allah.

Bang oci orang baik, selama jadi ipar aku belum pernah diperlakukan dengan tidak baik selalu ramah, lempeng tapi lucu. Inilah takdir yang telah Allah tetapkan, saat ini mungkin kami masih menerka nerka hikmah apa yang akan kami peroleh, tapi yang pasti dan harus diyakini, Allah adalah sebaik sebaik perencana.

Rabu, 08 Mei 2019

Ramadhan 2019

Pengaturan manusia ibarat rumah pasir di tepi laut yang bisa demikian mudah runtuh tatkala ombak takdir Tuhan berlabuh
"Ibnu Athaillah"

Biasanya saya semangat menyambut Ramadhan mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari bersih-bersih rumah, bikin agenda Ramadhan sampai pemanasan ibadah di bulan syaban.

Tahun ini berbeda saya hampir tidak melakukan persiapan seperti biasanya kecuali pemanasan ibadah di bulan syaban yang tidak optimal.

Rasanya energi habis dan pikiran semua sudah tercurah untuk beberapa kejadian yang beruntun.

Alhamdulillah Alla Kulli Hall, di beri ujian sakit beberapa anggota keluarga. Mulai dari kakak ipar yang dari sebelum Ramadhan sudah sakit hingga hari ini masih belum sadar di hcu, mama yang mau operasi tulang dengan kondisi tulang yang retak disana sini yang membuat mama sangat kesakitan untuk bergerak sedikit saja, dan bapak mertua yang harus mendapat perhatian ekstra karena sudah lanjut usia.

Dada terasa nyesak. Tapi ingat lagi, pilihan hidup itu hanya ada 2, bersyukur atau bersabar. Nikmati saja dengan rasa keimanan.

Doa ini menjadi andalan selama menjalani hari hari yang sulit, badan boleh lemah tapi hati harus tetap kuat.

" Yaa hayyu yaa qayyuum, birohmatika astaghitsu ashlih lii sya'ni kullahu, wa laa takilni illa nafsi thorfata 'ain"

Wahai yang Maha Hidup dan Maha Terjaga, dengan Rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan Engkau limpahkan (semua urusan) terhadap diriku walaupun sekejap mata

Doa meminta kemudahan dan kebaikan segala urusan ini, menjadi andalan saya banget, serumit apa pun urusan hati akan tetap tenang.

Saya suka banget dengan kalimat "walaupun sekejap mata" Masya Allah sweet banget kalimat Allah.
Betapa Allah sayang dengan makhluknya, Dia menyuruh kita berdoa minta pertolongan agar Allah menyelesaikan urusan kita dan kita tidak disuruh untuk menanggungnya sendiri walaupun hanya sekedar sekejap mata. Bayangin sekejap mata itu gimana, cepat banget dan hanya sekilas.

Disini saya percaya dan tawakal bahwa manusia itu hamba yang lemah ga ada kemampuan untuk menyelesaikan urusan nya sendiri tanpa bantuan Allah.

Biarlah Allah yang menyelesaikan segala urusan. Biarlah takdir Allah yang bekerja, rencana dan ikhtiar saya hanya sebuah titik usaha, sebuah tanggung jawab saya sebagai manusia.

Saya ikut berurai air mata, melihat suami kk saya, seorang ayah yang kondisinya tidak sadar dan di samping tempat tidurnya ada istri dan 3 anaknya melihat dengan berurai air mata, yang kemudian putri kesayanganya berkata lirih, "ayah sembuh ya, besok kita jalan-jalan lagi"

Saya juga tiap malam susah memejamkan mata, ikut merasakan nyeri yang mama rasakan apalagi mama biasanya disini bersama saya terutama jika sakit, Qadarullah saat sakit sekarang mama ada di rumah kesayangannya. Insya Allah saya ridho jika ini cara Allah menguji kesabaran, keikhlasan dan tawakal hamba Nya.

Bicara tentang penyakit, banyak hal yang saya baru sadar ketika sering mendengar kajian dr Zaidul Akbar dan stalking ignya tentang Sehat ala Rasulullah.

Isi kajian tersebut meluruskan kembali cara pandang saya tentang, sehat, penyakit, kehidupan, obat, dan kembali kepada Al-qur'an.

"Jika kita sakit yang pertama kita lakukan adalah yakinlah bahwa itu takdir Allah, sesehat apapun kita pasti akan mati, gimanapun kita menjaga kesehatan pasti ada potensi penyakit, yang penting itu bagaimana kita mempersiapkan diri bertemu dengan Allah,  banyak bertobat mohon ampun kepada Allah jika selama ini kita telah menzalimi diri kita sendiri dan terakhir mintalah sama Allah obat yang mudah dan murah yang Allah ciptakan dari tanah".

"Konsep kesehatan dalam islam ada pada qalbu. Bagaimana menjaga qalbu? Seringlah menghisab diri dan menangis. Toksin kalbu itu adalah semua dosa sedangkan toksin tubuh itu bisa dari makanan, minuman, obat, vitamin, kosmetik dll".

"Kenapa sekarang banyak penyakit? Karena sekarang orang hidup untuk makan bukan untuk beribadah.
Makan itu bukan untuk kenyang, level teratas fungsi makan itu untuk menegakkan tulang sulbi agar bisa beribadah".

"Jangan menggantungkan sembuh kepada medis dan manusia tetap hanya kepada Allah kita berharap.
Al-qur'an adalah syifa (obat/penyembuh), kembalilah kepada Al-qur'an. Seperti perumpamaan obat jika kita minum obat dan kemudian tidak ada perubahan maka kita tambah dosisnya begitu juga dengan Al-quran, perbanyaklah membacanya, bagaimana bisa menjadi obat? Biarlah itu menjadi urusan Allah".

" Rasulullah bersabda " Barang siapa yang membaca Al-qur'an satu huruf saja, dia akan mendapatkan kebaikan dan kebaikan itu pahalanya 10, saya tidak mengatakan الم itu satu huruf, tapi alif satu huruf, lam itu satu huruf dan mim itu satu huruf"

"Janji Allah itu pasti, makin banyak Al-qur'an yang kita baca maka makin banyak kebaikan yang mengalir ke tubuh kita setidaknya semakin tenang dan bahagia qalbunya".

"Sakit itu adalah rahmat karena Allah sayang dengan kita, kita diajak lagi untuk mendekat kepada Allah. Banyak berdoa jangan banyak merenungi nasib tapi persiapkanlah pertemuan dengan Allah, jangan sampai sudah sakit tapi jauh dari Allah".

"Kita hidup sehat, minum madu, makan kurma, karena Allah perintahkan di dalam Al-qur'an, bukan hanya sekedar supaya sehat tapi agar kita bisa banyak melakukan ibadah-ibadah sunah, yang jadi masalah udah makan sehat, tapi sholat malam masih susah, baca Al-quran ga nambah-nambah (jleb banget dan saya merasa di cubit 😢)"

"Luruskan orientasi hidup, jika hidup hanya mencari dunia saja, kita akan diberi dunia, namun dengan kondisi selalu merasa kurang, makin di kejar makin terasa kurang. Jika hidup mencari akhirat maka dunia dan akhirat akan di berikan kepadamu, kita akan selalu merasa cukup dengan pemberian Allah tanpa merasa kekurangan".

Rasulullah bersabda :
"Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai beraikannya, dan menjadikan kefakiran ada di hadapannya, padahal ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya.
Dan barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menghimpun urusannya dan akan menjadikan kekayaan (rasa cukup) di hatinya dan dia akan melihat harta dunia itu dalam keadaan rendah"

Masya Allah lagi-lagi saya merasakan kalimat Allah yang sangat bagus "melihat harta dunia dalam keadaan rendah"
Jika rasa ini sudah tertanam di dada, berarti kita sudah selesai dengan diri kita.

Itulah sebagian kajian dr Zaidul yang begitu membekas di hati saya disamping resep sehatnya yang sebagian telah saya coba.

Tetap semangat mengisi Ramadhan dengan amal yang terbaik, mumpung masih di beri waktu di bulan istimewa perbanyak istigfar, perbanyak doa dan tawakal.

Biidznillah, semoga Allah mudahkan kita melakukan kebaikan, mudahkan meninggalkan keburukan, istiqomah sampai akhir ramadhan dan istiqomah sampai menutup mata.

Saatnya mengambil jalan sunyi di bulan ini, meninggalkan keriuhan sosmed yang tiada habisnya, dan waspada terhadap pencuri waktu.

Saatnya lebih mendekat kepada Allah dan mengetuk pintu langit, menumpahkan segala rasa yang ada, dan memohon ampun terhadap dosa yang tak terbilang.