Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Maret 2023

Tentang Buku, Judul: Kisah Shahih Para Nabi dan Rasul by Abun Nada


Terus terang saya awalnya membeli buku ini karena kaget, saat iklan di sebutkan buku ini bercerita mengenai para Nabi dan Rasul tapi berbentuk puisi apalagi ini berdasarkan kitab Ibnu Katsir. Dalam pikiran saya, apa bisa pelajaran ilmu agama yang begitu serius dan membutuhkan uraian panjang di buat dalam bentuk puisi.
Sepengetahuan saya puisi itu permainan kata yang dibuat dalam bentuk singkat sering kali diksinya memakai metafora. Orang awam sendiri menganggap puisi itu sulit dipahami karena bahasanya terlalu tinggi. 


Pertanyaan saya sepertinya sudah di duga oleh penulis, langsung terjawab pada halaman pertama muqaddimah, Abun Nada sang penulis menerangkan. "kenapa puisi? Syaikh utsmain rahimahullah menyatakan, "Pada umumnya puisi lebih mudah di hafal dan tahan lama." Puisi bukan sekedar seni merakit kata. Namun juga ia mengasah rasa. 
Kenapa puisi? Sebabnya, anak-anak kita perlu tahu bahwa puisi bukan otoritas seniman, yang kesannya hanya memuja perasaan mereka. Puisi bukan hanya soal asmara pemudi dan pemuda, buka pula sekedar lirik untuk disenandungkan dalam lagu-lagu yang melalaikan jiwa."
"Dalam peradaban Islam, puisi menempati kedudukan yang mulia. Sebut saja, misalnya kitab Alfiyah karya Imam Ibnu Malik rahimahullah yang merangkum kaidah pelajaran bahasa. Demikian juga, kitab Diwan Imam Syafi'i rahimahullah yang padat akan ilmu dan hikmah. Ilmu berbalut bahasa indah tentu akan menimbulkan kesan tersendiri pada jiwa, sebagaimana Allah 'Azza wa jalla juga menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa yang indah. Tentu ada hikmah besar di dalamnya. Bait-bait puisi dalam buku ini tidak keluar dari ruang hampa, bukan pula sekedar hasil perenungan belaka. Setiap kalimat nya saya ambil dari buku Imam Ibnu Katsir, baik secara tekstual maupun secara makna. Kesempatan bagi kita untuk menjelaskan, "Nak, tulisan kecil ini namanya catatan kaki. Ia menunjukkan sumber rujukan. Artinya, puisi ini tidak ditulis asal-asalan. Bukan lahir dari lamunan atau khayalan "

Masya Allah saya terharu membacanya, ternyata seni tidak bertentangan di dalam Islam. Dulu saat saya belum banyak belajar ilmu agama, saya mengira puisi itu adalah bentuk bahasa yang paling indah, romantis, syahdu dan dalam. Anggapan itu semua terpatahkan ketika saya aktif belajar Alquran terutama ketika belajar arti dan maknanya. Saya banyak beristigfar atas pemahaman saya dulu. 
Saat ini walau sudah belajar ilmu agama secara tetap saya tetap tidak bisa meninggalkan kesukaan saya terhadap puisi. Memang ada hal yang kadang tidak sejalan jika saya sedang berada di ruang kelas puisi. Teorinya mengatakan puisi itu mempunyai ciri bahasa yang tidak biasa dengan bahasa yang padat sedangkan saya menyukai puisi yang seperti bercerita tapi tidak panjang seperti cerpen atau prosa, tapi mempunyai makna tidak hanya sekedar kata yang indah. Setelah membaca buku ini saya seperti dikuatkan bahwa sah saja kita membuat puisi dengan kalimat yang panjang apalagi mempunyai catatan kaki sebagai rujukan. 
Tentu kita semua ingin tulisan kita itu setiap hurufnya membawa kebaikan, menjadi amal jariah. Dengan menuliskan hal yang bermanfaat semoga tulisan menjadi jalan untuk kebaikan tersebut walaupun berbentuk puisi. 
Buku ini recomended bagi anak-anak maupun dewasa untuk belajar kisah para nabi dan rasul, uraian yang berbeda dengan buku yang lain.
Akhirnya dari sini saya mencoba membuat sebuah puisi setelah mendengar kajian bada subuh. 


Uf

Jangan katakan Uf
Pada orang tuamu
Apakah arti Uf?

Uf 
Menurut para ulama 
cara paling lembut yang membuat orang tidak nyaman/terganggu/tersakiti. 

Uf
Cara menujukkan keberatan dengan cara paling halus. 

Uf 
Jangan sakiti keduanya dengan cara apapun
Jangan angkat tanganmu pada keduanya 

Uf
 Kenapa aku terus? 
Aku kan sibuk

Uf
 Ekspresi paling lunak yang membuat orang lain ga nyaman. 
Apabila salah seorang dari orang tua dalam asuhanmu, ketika mendapatkan aroma tak sedap dari mereka jangan membuat eskpresi atau ucapan yang membuat mereka tidak nyaman. 

Uf
Hanya dua kata
Tapi bisa mengantarkan kita ke neraka

Uf
Jaga adab dan lisan kita


*Disadur dari Kajian Riyadus Shalihin, Ustad Nuzul Dzikri*







Sabtu, 13 April 2019

Narrative Writing Theraphy

Bismillahirrahmanirrahim...

Jangan takut dengan masalah
Masalah itu memperkaya rasa
Dan menulisnya seperti mengeja rasa

Jangan takut dengan rasa yang kita punya
Hati ini dalam genggaman pemilikNya
Dia yang berhak membolak balikan perasaan.
Banyak banyaklah berdoa agar hati ini teguh dalam keimanan

Istilah Narrative Writing Theraphy ini baru pertama kali saya dengar ketika membaca iklan pelatihan menulis di akun ig @adenit.

Setelah goggling dan baca penjelasannya saya merasa,  Masya Allah ternyata menulis bisa menjadi terapi mental.

Awalnya ragu mau ikut kelas ini , saya khan insya Allah ga ada depresi atau trauma, apa cocok ikut kelas ini karena terus terang saya tertarik dengan menulisnya aja. Akhirnya setelah mikir beberapa hari Allah takdirkan daftar juga beberapa jam sebelum pelatihan 😊.

Mba ade menjelaskan apa penting nya menulis karena menulis itu bukan semata mau jadi menulis tapi bisa menjadi cara untuk melepas pikiran pikiran yang menumpuk di kepala.

Kemudian ada sesi menghadirkan secara live mbak @louiandlove yang berada di norwey. Mbak ayu ini sedang menulis buku tentang bipolar yang di dampingi oleh mba ade sebagai mentor. Di sesi ini mata saya ikut berair ketika mba ayu menjelaskan penyakit bipolar yang telah menemaninya selama 10 tahun. Dia bercerita bagaimana ketika penyakit itu kambuh dan dia harus minum obat setiap hari seumur hidup. Selama menulis buku ini intensitas kambuh penyakitnya menjadi berkurang.

Saya suka menulis, selama ini tujuan saya menulis karena efek saya suka baca aja dan sebagai tempat untuk menyimpan kenangan. Ga pernah terpikirkan menulis bisa jadi sebuah terapi.

Disesi ke dua diisi oleh mbak Intan Savitri aka Izzatul Jannah. Saya langsung ingat bagaimana dulu zaman kuliah saya fans berat buku cerpen islami mbak intan ini, puluhan buku bo. Sekarang ketemu penulisnya langsung yang berprofesi sebagai dosen dan psikolog membuat pelatihan ini menjadi mantul.

Mbak intan menjelaskan teknik bagaimana cara menulis narasi sebagai terapi. Langkah awal, menulislah secara langsung spontan bebas tanpa mengedit segala emosi masa lalu hadirkan semua seolah olah kita sedang berada masa lalu tersebut.

Langkah kedua tulisan pertama itu kita tulis lagi tapi dengan kata ganti orang lain, beri tokoh nama orang lain dari cerita tersebut. Kemudian tulis hikmah dari kejadian tersebut.

Jika dari tulisan pertama kita sangat dekat dengan peristiwa tersebut pada tulisan ke dua kita sangat berjarak dengan peristiwa tersebut.

Dengan mengambil jarak dengan.peristiwa tersebut biasanya kita dapat melihat peristawa tersebut dengan lebih tenang dan jernih dan bisa mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Mengambil hikmah ini yang menjadi kuncinya. Pikiran dan perasaan menjadi lebih tenang.

Masya Allah seketika saya ingat kajian @drzaidulakbar yang mengatakan penyakit yang paling berat itu adalah pikiran berupa stress, marah, benci dll.

Seperti hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْصَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُكُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kelas ini juga mengharu baru ketika peserta ada yang mengalami trauma masa kecil. Saya berharap dan berdoa para perempuan, ibuk-ibuk senantiasa bahagia karena ibu yang bahagia itu menjadikan keluarganya bahagia.

Ga ada salahnya dengan bercerita ketika kita mengalami beban masalah tentu saja setelah curhat dengan Allah dan perhatikan adab dalam bercerita, pastikan orang tersebut pantas sebagai tempat kita bercerita kalau bisa keluarga terdekat dan yang kedua jangan buka aib kecuali pada orang yang pantas misalkan konsultasi ke dokter atau psikolog.

Happy happy ya semua, jangan sampai ada sress diantara kita (nunjuk diri sendiri)

Lelah itu biasa yang penting lillah
Lelah itu hanya siklus, lewati saja

SemangkA, semangat karena Allah 😊

Rabu, 09 Oktober 2013

Menulislah

Jadilah penulis yang menulis apa yang harus orang baca, bukan yang mau orang baca
Sampaikanlah apa yang harus orang dengar bukan yang mau dia dengar saja

Gunakan prinsip-prinsip baik secara konsisten
Hadapi resikonya termasuk jika tidak disukai

-Tere Liye-

Selasa, 23 April 2013

Hari Buku Dunia #worldbookday

Tanggal 23 April diperingati sebagai hari buku sedunia, saya taunya dari timeline beberapa penulis di twitter hehe.
Bagi saya bicara tentang buku sama dengan bicara tentang kebahagiaan. Buku membuat saya asyik seperti berada di dunia lain. Saya sering menghadiahi diri saya sendiri dengan buku atau majalah, misalkan saat mendapatkan fee dari pekerjaan atau pekerjaan saya berhasil selesai dengan baik.

Sebelum era twitter, dalam dua hari saya bisa melahap sebuah buku :). Saat ini karena sering baca twitter dalam satu minggu saya menghabiskan satu atau dua buku. Sayang hobi gila membaca ini tidak diikuti dengan gila menulis. Saya masih sering banyak alasan untuk konsisten menulis.

Dalam rangka hari buku dunia ini saya berjanji lebih rajin menulis (bantu do'a ya xixixi). Kalau dulu alasan saya malas buka komputer sekarang saya akan kembali nulis di smartphone yang bisa dilakukan dimana saja. Walaupun tanpa disertai link dan gambar. Nanti kalau kebiasaan saya sudah terbentuk baru saya akan mempercantik tulisan dengan tambahan pernak pernik.

"Jika menulis itu hobi, ia mudah saat kita senang hati. Jika menulis itu misi, kita akan bersedia berdarah-darah menempuh jalannya" @salimfillah

Ayoo menulissss, semangatttt :))
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 17 Desember 2012

Dari sebuah buku menjadi film dan lagu


Perahu kertas ku khan melaju
membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
tapi ini adanya

Hidupkan lagi mimpi-mimpi
cinta-cinta....cita-cita....
(Lagu Perahu Kertas by Maudy Ayunda)


Beberapa hari ini lagu Perahu terebut menjadi top hits dikamar saya :), gara-gara si uda yang lagi seneng dengar lagu ini walaupun rada telat sukanya :)).
Mendengar lagu ini membuat saya teringat kembali novel dan bukunya. Karya-karya Dewi Lestari boleh dibilang favorit saya karena ide-ide yang ditulisnya sangat tidak umum. Pemilihan kata-katanya juga dalam dan filosofis. 

Perjalanan Perahu kertas ini sangat beruntung. Dimulai dari novelnya yang best seller, kemudian filmnya yang sukses dipasaran bahkan sampai dibikin dua seri. Saat ini banyak sekali novel-novel yang diadaptasi dari buku-buku cerita. Sebagai penikmat buku saya sangat senang sekali dengan keadaan seperti ini. Untuk buku-buku yang saya suka, saya sempatkan untuk menonton filmnya. Walau sampai kapanpun untuk membuat film sama dengan cerita di novel sangat susah, karena medianya beda dan pembaca sudah mempunyai film sendiri ketika membaca novel tersebut. Disinilah tantangannya, saya sendiri sengaja menonton film tersebut karena penasaran apakah sama bagusnya antara buku dan film.

Pada waktu saya mengikuti workshop tentang menulis, pembicaranya saat itu Bapak Isa Alamsyah mengatakan bahwa turunan dari buku itu bisa bermacam-macam, contohnya buku Harry Porter, dari sebuah buku menjadi film sampai bermacam-macam merchandise.

Sampai saat ini kebanyakan buku yang menjadi sebuah film adalah buku fiksi dan biografi, mungkin suatu saat tidak hanya buku yang menjadi turunan, tapi dari sebuah lagu bisa menjadi buku dan film. Zaman semakin berkembang semakin banyak pula kreatifitas yang berkembang. Keranjingan media sosial seperti facebook pun bisa menjadi ide pembuatan film. 

Novel Perahu Kertas walaupun bercerita tentang mencari cinta pasangan tapi juga bercerita tentang passion. Kugy sang tokoh dalam perahu kertas sangat menyukai dunia tulis menulis begitu juga dengan keenan menyukai melukis. Setelah lulus Kudgy bekerja dalam bidang periklanan walaupun hati dan pikirannya tetap ingin menulis cerita buat anak. Sedangkan keenan terpaksa menugurus bisnis orang tuanya. Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah, sesuatu yang tidak dikerjakan dengan hati hasilnya menjadi tidak maksimal. Akhirnya hati mereka dipilih untuk mengambil keputusan dalam cita dan cinta, hhmm so sweet....:))


Rabu, 05 Desember 2012

Sebuah Buku Tentang Impian dan Realita


Impian membuat hidup kita semangat
Realita membuat kita berusaha

Saya berlangganan tulisan BambangTrim di blognya manistebu.wordpress. 
Kemaren siang ada tulisan yang menarik yang judulnya Ide Menjual Impian dan Realita. Dalam tulisannya Bambang Trim menceritakan buku yang best seller di Gramedia adalah buku Merry Riana yang ditulis oleh Alberthiene Endah, yang bercerita tentang cita-cita seorang mahasiswa biasa di Singapura dan kemudian menjadi milyader di usia muda.

Bambang Trim berpendapat, Indonesia sangat berpotensi menjual buku bagaimana menjadi kaya atau sukses yang mana masa kecilnya dulu penuh derita. Intinya impian dan realita seseorang yang biasa-biasa saja sangat berpotensi untuk dijadikan ide dalam sebuah buku.

Saya sendiri penyuka buku-buku yang disebut BambangTrim tersebut, selain menjadi motivasi, saya belajar sebuah proses yang harus dilalui seorang yang saat ini sukses. Memang ada cerita yang mengharu biru saat melewati kesulitan karena tidak semua orang bisa melewati kesulitan dan kemudian berhasil mencapai cita-citanya tanpa kareakter dan sifat yang kuat.

Saya membenarkan pendapat tersebut dan menempatkan diri sebagai pembaca yang mencoba mengambil manfaat dari buku yang di baca. Sebagai seorang yang terus berproses menjalani impian dan cita-cita kadang ada rasa bosan, capek dan ingin berhenti. Pada saat membaca buku dengan tema tersebut bisa menjadi pengingat bagi saya, semua orang melakukan yang sama dalam mencapai impian dan cita-citanya. Ada harga yang harus dibayar.
So.... mari menulis impian kita, bergerak untuk berusaha mewujudkannya dan siap menghadapi realita yang terjadi :)


Kamis, 27 September 2012

Cerita Seru di #AsmaNadia Writing Workshop, 22-23 September 2011

 "Untuk Dunia Yang Lebih Baik, Orang Baik Harus Lebih Banyak Menulis dan Berkarya"
(Asma Nadia)
  
Lagi baca twitter ada pengumuman @asmanadia mau ngadain workshop menulis. Kesempatan nih buat belajar banyak dari penulis idola. Soal karya mbak Asma udah ga diragukan lagi, dari masa kuliah sering banget baca cerpen, novel dan cerbernya. Mulai dari yang hahahihi sampai yang serius.

   Worshopnya dibagi dua sesi selama 2 hari, ada yang fiksi dan non fiksi. Karena niat mau  ikut keduanya,  saya daftar buat dua hari, investasinya Rp 500.000,-, kalau mau ikut workshop yang sehari juga boleh, investasinya Rp 300.000,- itu semua udah harga promo saudara-saudara ;).

   Hari pertama tentang penulisan fiksi, yang bawaian materi pak Isa Alamsah (suami mba Asma) dan mba Asma Nadia tentunya. Kirain bakal bete dari pagi sampai sore ehh ga taunya emang iya hihi ga ding, beneran. Waktu jadi ga berasa, selain bawain acaranya asyik ternyata pak Isa dan mba Asma orangnya lucu juga, jadinya serius tapi santai.

   Materi fiksi lebih banyak prakteknya jadi bukan hanya teori aja. Sangat berbeda rasanya jika hanya baca teori tapi tidak praktek. Bagi saya nulis fiksi itu susah, karena terbiasa nulis di blog yang non fiksi seperti resensi, laporan, cerita pengalaman dll. Waktu disuruh bikin opening fiksi mengenai cerpen yang akan kita buat, sempat tergagap-gagap, bingung mau nulis apa. Tapi namanya juga pelatihan yah ini saatnya berlatih dan belajar.

   Kesimpulannya nih apa-apa saja yang kita perlukan untuk menulis fiksi diantaranya ;  ide, setting/latar, penokohan/karakter, sudut pandang, alur (plot) dan peristiwa (konflik), ending. Yukkss praktek bikin cerpennya, khan udah tau apa aja yang harus ada di sebuah cerpen (ngomong ke diri sendiri). 

   Sesi yang menarik waktu ada koreksian mba Asma terhadap tulisan para peserta. Mba Asma bilang, penulis pemula sering mengalami serangan kata yang sama seperti kata aku, saya atau kamu, wahhh guwe bangett (setelah melihat isi blog di rumah).

   Hari ke-2 Workshop tentang non fiksi bikin saya tambah semangat. Terus terang terang terus (ehh kayak iklan) bagi saya lebih gampang  menulis non fiksi. Tapi seperti kata pak Isa, menulis itu adalah ketrampilan yang bisa dipelajari,  asal kita punya kemauan untuk berusaha dan belajar, yakin bisa, sipp dehh.

  Materi yang dibawain pak Isa bikin saya fokus mendengar karena sebagai wartawan pasti yang disampaikan pengalaman-pengalamannya selama ini. Untuk non fiksi walaupun kita tidak bisa nulis tapi kita bisa menerbitkan buku lho. Wahh, how? Ikutan workshopnya aja yah hihihi *senyum manis*

Yang penting setelah dari acara ini, saya harus langsung dan secepatnya berkarya dan bikin buku, seperti kata mba Asma " Satu buku sebelum mati? Insya Allah bisa"

Setelah penutupan ada acara foto-foto dan tanda tangan, wuihhh ramenya yang pengen foto-foto termasuk akyu tentunya :))

Semoga bisa berkarya seperti mba AsmaNadia

Kamis, 12 Januari 2012

Pentingnya Mengikat Makna

 Hari ini ada peristiwa yang membuat saya menyesal dan malu yang berkaitan dengan buku. Kenapa juga saya tidak membuat catatan buku yang telah saya baca dari dulu, saya baru sering mencatat beberapa bulan ini terutama setelah mempunyai blog :)). Jadi begini ceritanya, di daftar teman akun facebook saya, ada yang status tulisannya sering saya ikuti dan baca trus di catat deh kalau ada yang bagus, namanya @Uung Gantira, dia sering berbicara masalah agama, membahas buku, opininya atau masalah kehidupan sehari-hari. Saya suka mengikuti catatan buku yang telah dia baca. Nah akhir-akhir ini statusnya sering membahas dan membuat catatan buku dari Ibnu Qayyim yang dibelinya beberapa bulan yang lalu (2011), judulnya Al-Fawa'id (Menuju Pribadi Takwa), dia menuliskan point-point dari buku tersebut yang isinya bagus menurut saya biar ga lupa saya pun mencatatnya. 
Hari ini karena saya sedang tidak ke kantor jadi punya banyak waktu untuk browsing internet dan membaca tulisan-tulisannya. Entah kenapa sewaktu saya mencatat apa yang dia tulis mengenai isi buku itu, saya seperti pernah membaca dan sangat dekat dengan isi buku tersebut, apakah saya mempunyai buku tersebut ya, tapi rasanya tidak. Tapi atas nama penasaran saya pun berjalan menuju lemari buku yang ada di ruang tamu, sambil meliat di deretan buku-buku agama, ternyata jreng jreng saya menemukan dan membaca judul buku yang sama ada dilemari buku saya. Ya Allah ternyata saya sudah punya bukunya kenapa sampai ga ingat sama sekali? Sewaktu saya membuka buku tersebut, di halaman pertama ada tulisan nama saya dan tanggal saya  membeli buku tersebut, buku tersebut saya beli di bulan Juni 2001. Saya langsung sedih, kaget dan menyesal, ternyata buku yang direkomendasi berulang kali oleh Uung tersebut dan sering saya catat telah saya beli lama, apakah ini pertanda saya hanya memenuhi lemari ini dengan berbagai macam buku tanpa saya membacanya?
Akhirnya saya merenung dan berpikir kalau soal membaca, setiap buku yang saya beli pasti saya baca karena atas dasar pertimbangan ekonomis rugi donk udah keluar uang buat beli buku mahal-mahal tapi ga dibaca he he. Trus kenapa sampai saya sama sekali ga ingat ya? padahal buku ini saya beli waktu saya kuliah di Jogja yang pasti buku tersebut saya baca karena waktu untuk membaca buku tersedia banyak karena memang itulah tugas saya saat itu, kuliah alias belajar. Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan saya jarang mengikat makna (istilah pak Hernowo) atau menulis dari apa yang saya baca, kalau saya menulis mungkin ingatan akan sebuah buku atau judul lebih lama dan saya bisa membuka dan membaca ulang catatan tersebut. Ternyata mengikat makna seperti yang dianjurkan pak Hernowo itu benar adanya. Hari ini saya meniatkan dan berjanji akan lebih sering menulis buku-buku apa yang telah saya baca walaupun hanya sebaris kalimat. Doakan semoga saya tidak melupakan janji saya ya he he eh bagaimana dengan kamu apakah suka mencatat atau tidak? *cari teman ceritanya nih* xixixi.

Minggu, 20 November 2011

#WORDISME MENJADIKAN HIDUP LEBIH HIDUP

WORD  IS   ME                  

Wordisme adalah dunia tulis menulis. Acara Wordisme ini adalah gagasan dari mbak @AlberthieneE alias mbak AE, woro-woro nya di twitter yang mengajak siapa folowernya yang mau belajar nulis. Syaratnya sih gampang banget cukup kirim email ke mbak AE disertai tulisan singkat kenapa ingin belajar, setelah itu tunggu konfirmasi. Saya sewaktu membaca twet nya mbak AE semangat banget langsung deh ga pakai mikir kirim email, soalnya nge fans ama tulisannya terutama tulisan biografinya yang asyik banget bacanya serasa baca novel. berurai air mata bo he he lebay ya ). Alhamdulillah dapat kesempatan itu. 

Acaranya dinamakan wordisme (kreatif deh nama dan warna logonya, saking kerennya saya contek nih warna logonya ungu,hijau dan orange cihuyyyy). Kirain yang ngisi acaranya cuman mbak AE ternyata banyak nara sumber yang keren-keren. Acara berlangsung tanggal 19 November 2011 seharian penuh. Kalau dibilang pegel sih iya banget apalagi buat saya yang punya penyakit hnp (lebih dikenal saraf kejepit) pantangan penyakit ini khan ga boleh duduk dan jalan terlalu lama. Berasa banget tuh pinggang saya menjerit, akhirnya tiap setengah jam saya berdiri, biarin deh dibilang bisulan atau cacing kepanasan, demi ilmu di wordisme saya ga peduli :)).

Sesi pertama mengenai Jurnalisme Pop, nara sumbernya Petty Fatimah (Pemred Majalah Femina) dan Reda Gaudiamo (Pemimpin Grup Majalah Wanita Gramedia). Sesi ini banyak berbicara tentang karakter media. Jika ingin memgirim tulisan pelajari dulu karakter media tersebut, majalah femina sangat berbeda karakter dengan majalah chic, begitu juga koran-koran harian. Satu tema bisa diambil dari sudut yang berbeda, misalnya untuk tema jalan-jalan, di majalah gadis akan bercerita bagaimana liburan yang murah meriah ala backpaker, sedangkan femina lebih banyak bercerita tentang wisata kuliner atau tempat-tempat penginapan yang keren. Jadi jika ingin mengirim tulisan ke suatu media pelajari dulu dengan teliti gaya penulisan atau karakter tulisan mereka seperti apa, karena tulisan yang tidak tepat sasaran akan berakhir dengan penolakan xixixi.


Sesi kedua mengenai Pelatihan Menulis Biografi diisi oleh mbak Alberhine Endah sendiri dengan moderator mas Mayong Laksono, (wuihh doi masih tetap cakep eh salah fokus hehe). Sesi ini mantappp banget, mbak AE bercerita sangat lincah dan cepat, kata-katanya mengalir cepat menceritakan bagaimana pengalaman-pengalaman dia menulis biografi. Ternyata satu point kunci yang saya dapat, mbak AE sebelum wawancara mencari data-data nara sumber tersebut selengkap mungkin dan mencari sisi emosionalnya. Pertanyaaan pertama sangat menentukan wawancara selanjutnya, dia mengambil sisi emosional tersebut, hingga nara sumber bisa menangis ataupun tertawa bahagia. 
Pantas saja yah saya baca buku mbak AE mengenai biografi Merry Riana baru baca beberapa halaman awal saya sudah menangis. Mbak AE ingin dalam setiap tulisan ada hikmah atau manfaat yang diambil misalnya untuk biografi KD bagaimana seorang KD dari hidup susah di daerah batu hingga bisa menjadi diva, begitu juga dengan biografi alm Crisye. Lebih peka terhadap perasaan dan empati akan membuat biografi itu lebih bernyawa.

Sesi ketiga diisi oleh Ollie/Salsabeela dan Raditya Dika mengenai Meraih Sukses Dari Blog, sumpah ini adalah sesi penuh gelak tawa dan humor oleh Dika, (tuh anak emang lucu banget yahh, ga beda seperti baca bukunya). ketawa ketiwi abis deh. kalo Dika bercerita perjalanan hidupnya dalam menulis diawali dengan blog tentang kehidupannya sehari hari dalam bentuk humor hingga menjadi sebuah buku dan berlanjut menjadi banyak buku dan profesi lainnya, saya mengakui dia punya talenta soal humor sampai saya merasa kemaren itu dia lagi ngisi workshop atau stand up comedy ya :P. 

Untuk Ollie saya liat dia bisa menjadi sukses karena percaya dirinya yang tinggi, dari cara dia membawakan diri dan memasarkan dirinya kelihatan klo dia jago menjual kemampuannya, tapi dari segi kemampuan juga bisa dipertanggung jawabkan buktinya saya suka baca buku dan blognya. Ollie dari menulis, punya bisnis, jadi model, hingga di bayar untuk tulisan jalan-jalan. Ollie mengatakan ga ada yang bilang klo saya ini penulis yang bagus, karena itu saya yang mengatakan saya ini penulis dan saya mempromosikan itu di sosial media, wahh saya sampat melongo dengarnya, saya aja yang punya blog kadang suka malu kalau ditanya blognya apa, malah ga mau bilang, malu alias ga pede klo ntar baca tulisannya saya ternyata jelek, cara Ollie bisa ditiru nih biar saya pd he he, Makasih Ollie for kiat Merketing Your Self nya :).


Sesi keempat mengenai Pelatihan Menulis Fiksi Novel/Cerpen diisi oleh Clara Ng, Djenar Maesa Ayu Hetih Rusli dan Windy Arientanty. Dalam menulis fiksi cintailah terhadap pekerjaan menulis karena jika kita cinta hasilnya pasti akan lebih bagus karena menulisnya dengan happy. Bebaslah berkarya jangan terlalu memikirkan apakah karya kita bisa dimuat media atau bagus, tetaplah menulis tanpa harus dikungkung berbagai macam kekahwatiran dan ketakutan.

Mbak Hetih dan Windy adalah tukang edit alias Editor xixixi. Pengakuan mba Windy editor itu pacarnya penulis, karena mereka saling ngobrol (baca koreksi :) ) untuk menjembatani apa maunya penulis dan apa maunya pembaca. Padahal selama ini saya membaca klo editor itu "jahat" karena sering "menghabisi" tulisan penulis tanpa basi basi. Kata penulis "apa editor itu ga tau kalo saya sudah capek menulisnya, enak aja di potong", dan bagi editor "pembaca ga peduli dengan perasaan itu". Wahhh so... pandai pandailah memenangkan hati editor agar dia tidak terlalu ganas memakan tulisan para penulis he he, tentunya bagi penulis harus bisa memberikan karya yang terbaik.


Sesi kelima mengenai Menulis Skenario, yang diisi oleh Salman Aristo, Aditya Gumai dan Alexander Thian.  Menulis skenario itu beda dengan menulis novel, karena dalam skenario yang bermain indra visual.
Aditya Gumai mengatakan buatlah sesuatu karya yang bermanfaat, karena ini yang bisa membuat karya tersebut diingat. Saya sangat berapresiasi terhadap beliau, saya melihat ada visi yang hendak dicapainya dalam membuat film, seperti film Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela yang keduanya karya dari Asma Nadia. Aditya ingin membuat film yang ada nilai kebaikan dan ada adegan yang akan diingat orang terus karena adegan tersebut mengandung misi.

Alex Thian bercerita mengenai pembuatan cerita sinetron yang lebih sering mementingkan hasil rating daripada nilai sebuah cerita. Karena penontonnya yang meminta, begitu menurutkan selera penonton para pembantu.
Menurut pendapat saya kalau acara sinetron yang berkiblat kepada rating kapan sinetron itu akan memberi nilai kepada para penontonnya, karena seperti kita tau sinetron Indonesia adalah sinetron yang begitu banyak hal-hal yang tidak baik. Masa sih adegan yang ditampilkan marah-marah, memukul, kebencian, iri dan hal yang buruk lainnya,. apakah segitunya arti sebuah rating tidak bisakah membuat sebuah cerita yang menanamkan nilai kebaikan seperti keluarga cemara yang mencapai berpuluh puluh episode dan sangat disukai masyarakat. Aditya Gumai mengajak masyarakat untuk berperan jangan hanya diam jika disuguhkan cerita yang tidak bernilai tapi beri kritik atau masukan, karena dengan begitu kita punya usaha untuk berubah.

Begitu cerita saya sehari bersama #wordisme dan bagaimana cerita peserta lain yang ikut workshop pasti sama serunya juga ya. Alhamdulillah banyak ilmu yang saya dapat sekarang tinggal action saja untuk menerapkan ilmu tersebut, terima kasih buat mbak AE dan panitia lainnya, semoga menjadi amal kebaikan dan buat para peserta mari kita berkarya, yeahhh.....:))

Kamis, 27 Oktober 2011

# BerkatNgeBlog, Saya Lebih Bahagia :)))

 Dalam rangka hari blogger nasional, di twitter bermunculan hashtag #BerkatNgeBlog. Wooww ternyata dari time line yang saya baca #BerkatNgeBlog bisa menghasilkan macam-macam yah, ga hanya kepuasan batin, tapi juga pendapatan secara ekonomi, dan juga meraih impian. Dalam blognya salsabeela.com dalam tulisannya Berkat NgeBlog : Pintu Kesuksesan, tulisannya lebih keren lagi, semua kesempatan, peluang, bisnis, hobi dan kesenangan di peroleh ollie berkat ngeblog. Mungkin saya termasuk bayi dalam ngeblog karena saya baru ngerti bahwa blog itu bagaikan pintu untuk meraih kesuksesan. Saya ngeblog baru banget, alasanya simple pengen ada tempat menuliskan catatan perasaan, pikiran, berbagi bacaan atau apa saja yang bermanfaat, itu semua hanya karena satu alasan saya suka menulis. Sebagai seorang yang bukan profesi penulis, kadang menulis menimbulkan kesulitan, makanya mau terus mencoba sebagai latihan, saya anggap ngeblog itu tempat belajar deh. Saya ga memikirkan apakah tulisan ini enak di baca atau aneh, yang pertama saya pikirkan, apakah tulisan ini bermanfaat atau tidak, setidaknya untuk diri saya sendiri. Maka jadilah website ini sebagai "rumah" dalam kesunyian, tapi penuh dengan semangat dan berbagai macam perasaan. Saya ga tau apakah nanti dengan ngeblog saya akan meraih sesuatu, saya  sekarang hanya ingin membebaskan pikiran, gagasan, pengalaman dan perasaan pada sebuah bentuk yang bernama tulisan, yang mana pada suatu hari nanti masih bisa saya baca. Sebelum adanya blog saya menulis dalam buku harian, dari buku harian tersebut saya belajar dan memperbaiki diri saya, karena pengalaman masa lalu tertuang di situ. Jadi #Berkat Ngeblog saya merasa lebih bahagia, trus adakah yang lebih penting dari ini? :)))

Senin, 15 Agustus 2011

Menulis Fiksi Itu Seksi (by Alberthiene Endah)


"'Rasa' adalah modal yang sangat penting dalam tulis menulis. Ketika kita kehilangan rasa atau kehilangan getar apapun yang menyentuh nurani, akan sulit untuk memberi jiwa 
pada tulisan " . (AE)

Alberthiene Endah (AE) adalah penulis novel yang terkenal dengan tema realita kehidupan metropolitan terutama perempuan seperti Detik Terakhir, Cewek Matre, Nyonya Jet Set dan lain-lain. Cerita novelnya jika di baca terasa sentuhan kisah nyata nya bukan hanya sekedar karangan imajinasi. Riset dan latar belakang pengalaman AE sebagai wartawan membuat buku ini memiliki warna lain tidak hanya bercerita bagaimana tekhnis menulis fiksi tapi juga motivasi dan pola pikir untuk berani dan terus mengasah kemampuan menulis fiksi.

"Alasan terbaik untuk menulis adalah jika kita benar-benar ingin menulis demi menjawab sebuah kerinduan. Alasan ini abstrak dan luas tapi sangat menguasai. Perasaan seperti ini memang sulit dibentuk ketika kita belum mencipta sebuah kalimat pun" (AE)

Hal pertama yang dibahas dan menjadi penting adalah sebuah pertanyaan, kenapa anda ingin menulis? Kalimat diatas bisa menjadi sebuah renungan dan jawaban apa yang sebenarnya kita cari.

"Kerinduan bisa diciptakan dengan pancingan-pancingan yang diciptakan. Kita harus pintar-pintar membentuk disiplin dengan peraturan yang dibuat dan dipatuhi sendiri, karena menulis adalah sesuatu yang lentur sekali. Lentur untuk disemangati, lentur untuk dikhianati".(AE)

Pertanyaan kedua yang sering muncul apa yang harus kita tulis, dan darimana ide tersebut. Mungkin bagi sebagian kita memikirkan ini saja sudah membuat kita menjadi takut, gugup dan berhenti. Pertajamlah RASA. 

"Semakin peka perasaan seseorang, semakin mudah ia meraba berbagai warna emosi. Jika itu terjadi pada penulis, akan semakin cepat ia mencapai jembatan yang mengantarkan gejolak rasa ke dalam tulisan. Ketajaman rasa yang paling ampuh untuk melahirkan kepekaan dalam menulis adalah ketika kita bisa berempati pada orang lain". (AE)

Saya sangat percaya sesuatu yang berasal dari hati maka akan sampai ke hati pula. Nah itu juga berlaku untuk semua termasuk karya fiksi.

"Jangan pernah berpikir bahwa menulis novel bisa dilakukan hanya dengan menumpahkan rekaman peristiwa kedalam bentuk tulisan. Sebagai hasil fisik, ya memang bisa dilakukan dengan cara seperti itu. Namun jika ingin menghasilkan tulisan yang berjiwa, kita harus menyertakan pendalaman batin terhadap apa yang ditulis". (AE)

Ide yang telah ada untuk menjadi sebuah topik dan merangkainya dalam kata-kata merupakan hambatan yang terjadi kemudian setelah kita menemukan gagasan. Membuat catatan dan bank pikiran bisa menjadi salah satu solusi. Pikiran-pikiran yang terlintas dapat menjadi "simpanan" kita pada saat kita memerlukan dalam merangkai tulisan.

"Tak perlu membuang ide-ide yang sudah terkumpul ketika kita telah menemukan topik cemerlang dan tajam. Saya percaya akan adanya hierarki ide. Biarkan ide-ide terbaik menjadi pembentuk topik utama". (AE)

Saya belum pernah menulis fiksi dan sangat ingin mencoba eh sudah tapi belum ada yang dipublikasikan he he. Kadang ide mucul pada saat kita sedang menulis spontan tanpa sadar rangkaian katapun tersusun dengan baik. Maka segala hal yang paling penting jika kita sudah memulai satu kalimat maka yang lain menyusul.

"Misteri mood dalam menulis memang akan menjadi kisah abadi. Membaurkan mood dengan passion adalah PR yang akan terus ada dan dialami oleh banyak penulis. Yang pasti, selalu ingat pesan yang satu ini, jangan manjakan mood sebagai dewa bagi aksi menulis kita" (AE)

 Kata-kata diatas hanya sebagian dari yang saya ambil dari buku tersebut, sengaja banyak saya salin daripada pendapat saya tentang buku ini karena menurut saya kata-kata AE sangat romantis dan menggetarkan bagaikan sebuah lagu dan puisi. Dari novel-novel karya AE yang telah saya baca karakter tulisan AE memang indah, untaian tulisannya mengalir dan mudah dimengerti. Buku ini hanya sebagai guide dan pendorong tetap eksekusinya ada di dalam pribadi masing-masing penulis. Selamat mencoba termasuk saya :d

Kamis, 21 Juli 2011

Menulis Dengan Kekuatan Jiwa ("Dunia Kata" M Fauzil Adhim)

Pernah nggak ngerasain baca buku yang bagus trus pengen baca lagi, kadang buku yang udah lama kita baca pun pada saat di baca lagi tetap aja masih menemukan makna yang baru. Saya menemukan beberapa buku yang seperti itu biarpun diulang-ulang ga bosan-bosan. Jadi mikir bagaimana ya kondisi mereka saat menulis? Kenapa saya sampai selarut ini terbawa emosi :). Apa ini yang dinamakan menulis dengan kekuatan jiwa seperti kata Fauzil Adhim?
Fauzil Adhim dalam bukunya Dunia Kata (buku ini sebagai bukti, saya beli tahun 2004 sampai sekarang dibaca lagi tetap ga bosan :) ) menuturkan : "Kekuatan jiwa yaitu; dalam hidup, ada yang harus diperjuangkan. Ada idealisme. Inilah yang menjadi penggerak kita, penggerak yang nyalanya berkobar-kobar dan tak mudah padam. Kekuatan idealisme inilah yang telah melahirkan penulis-penulis besar. Diantara mereka ada yang sangat produktif, ada pula yang tidak. Tetapi, satu karya yang benar-benar baik dan penuh kekuatan, akan jauh lebih berpengaruh daripada seribu buku yang tebal biasa-biasa saja. Ya, kekuatan jiwa. Bukan semata ketrampilan menulis. Kekuatan jiwa itu lahir dari niat yang bersih, tujuan yang jelas, komitmen yang kuat, visi yang tajam dan sikap mental yang baik. Ada yang mereka perjuangkan dalam hidupnya. Ada yang mereka sampaikan".
Setuju banget dengan penjelasan FA, saya rasa tidak hanya dalam bidang menulis, apapun profesi kita dalam hidup kita harus punya nilai tersebut, ada yang harus kita perjuangkan, ada nilai-nilai yang menjadi pegangan kita dalam melangkah. Buku-buku karya Habiburrahman Elshirazy, Helvy TR, Asma Nadia, Endy Kurniawan (Think Dinar) Ligiwina Hananto dengan "kampanye" mengajak Golongan Menengah Indonesia menjadi kuat bagi saya termasuk buku yang ditulis dengan kekuatan jiwa.
FA memberi tips apa yang kita perlukan dalam membangun kekuatan jiwa? langkah pertama pertajam visi, karena ia memberi inspirasi dan mengendalikan setiap kata yang mengalir melalui jari jemari kita. Visi disini adalah gambaran tentang keadaan yang kita inginkan dimasa depan. Visi menjelaskan ingin menjadi apa kita, apa yang ingin kita raih dan akan kita "ciptakan" seperti apa diri kita. Langkah kedua, berpikir progresif yaitu menawarkan upaya kreatif untuk menemukan jalan keluar. Berpikir progresif membuat kita optimis dan inovatif.
Jujur saya menangis pada salah satu bagian kalimat FA dalam "Dunia Kata" tersebut; "Demi Allah, saya mengharap dengan seluruh kekuatan yang saya miliki agar setiap tulisan mampu menciptakan perubahan besar bagi hidup, pikiran, jiwa dan agama kita. Hidup ini tak lama, sedangkan kematian amat dekat. Maka saya berharap setiap kata yang dituliskan menjadi bekal untuk hidup sesudah mati". Subhannalah... semoga karya-karya FA menjadi amal kebaikan, sebagaimana saya rasakan setiap saya membaca buku-buku karya beliau, menjadi tercerahkan dan berusaha memperbaiki diri lebih baik lagi. Aamiin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 18 Juli 2011

Arti "mengikat makna" bagi saya

Istilah mengikat makna di munculkan oleh pak Hernowo dalam bukunya yang berjudul sama, sewaktu membaca buku tersebut beberapa tahun yang lalu saya langsung jatuh cinta. Paparan nya mengalir, bahasanya juga bagus dan tertata. Maksud dari mengikat makna disini yaitu menulis segala apa yang kita baca, lihat dan dengar, sehingga semuanya menjadi tulisan yang akan meninggalkan jejak.
Saya senang sekali membaca, apa saja buku saya baca terutama buku novel, agama, motivasi, keuangan dan lain-lain. Yang terpikirkan jika saya membaca begitu banyak buku dan saya tidak menulisnya lagi tentu semua akan hilang karena manusia itu sifatnya lupa, dengan saya menulis setidaknya menulis resensi maka suatu saat ketika saya membaca tulisan mengenai buku tersebut akan membantu mengingat kembali memori otak saya. Semenjak saat itulah saya bersemangat menulis apa saja walaupun hobi untuk menulis harian atau diary telah saya mulai dari sekolah dasar tapi sekarang setidaknya saya punya tujuan, arahan dan alasan dari kegiatan menulis tersebut, maka setelah itu hampir semua buku harian saya pada halaman depannya saya tulis "Mengikat Makna" :)).
Menulis bagi saya juga bisa menjadi terapi "kegelisahan", dengan sifat yang rada tertutup dan pendiam hhhmmmm (bukan pencitraan ya xixi) sulit bagi saya untuk menguraikan segala pikiran dan perasaan yang terpendam dan menulis menjadi jawabannya.
Saya perhatikan tulisan harian saya dari masa sekolah-kuliah-menikah-bekerja dan sampai saat ini, terbaiknya ada pada saat kuliah, saya sempat heran dan bertanya bukankah dengan bertambah umur maka pengalaman, kematangan jiwa dan rohani saya juga bertambah dan hal tersebut akan berpengaruh ke tulisan saya. Seharusnya begitu tapi saya menemukan jawaban lain ketika masa kuliah keseharian dan kehidupan saya adalah belajar. Bacaan, lingkungan, kegiatan semuanya menunjang proses belajar tersebut sehingga pikiran dan jiwa saya memang terpusat untuk itu maka saya bisa menulis dengan spontan, lancar dan bebas. Mungkin itu sebuah proses saya percaya semakin saya sering mencoba dan latihan maka menulis akan menjadi sebuah kebutuhan. Satu yang akan tetap saya pegang dalam menulis yaitu menulis dengan hati karena sampainya pun pada hati pula. Ciaooooo ˆ⌣ˆ
Powered by Telkomsel BlackBerry®