Kamis, 10 Februari 2011

Menawar

Belanja tanpa nawar bagaikan makan sayur tanpa garam he he, aku bukan orang yang jago nawar, setiap belanja berapa harga yang disebut langsung aja di oke in, paling nawar dikit sebagai basi basi, kalau ga di kasih ya udah, hanya jadi prasayarat aja biar sah :0. Apalagi belanja ke pasar traditional, wahh ngeliat yang jualan aja udah kasian gimana mau nawar (takut dimarahin juga sih he he).
Tapi gimana jadinya kalau daganganku yang selalu di tawar, dan aku selalu tak kuasa untuk menolaknya. (aku tak kuasa..lagu kalee). Entah kenapa setiap orang yang nawar aku luluh lantak (lebay ihh), apalagi yang sering keukeuh nawar itu malah orang yang berkemampuan secara ekonomi (ga asikk banget khan). Mungkin aku malas untuk berlama lama ngobrol soal harga atau karena gak nyaman atau daripada dia ga jadi ha ha ha. Yang pasti sikap ini bikin karyawanku manyun. Katanya "kenapa sih bu mau aja padahal khan dia kaya." Sebenarnya aku ga liat dia kaya atau miskin walaupun yang sangat menjadi prioritas untuk di tolong adalah yang susah, aku hanya berprinsip kalau mereka mau nawar dan itu gak bikin rugi ya udah ga apa-apa toh untung sedikit juga ga masalah, yang jadi masalah kata temanku, aku nya yang nggak kaya kaya, hikz...
Biar sajalah aku nyaman dengan sifatku ini toh apa salahnya bikin orang senang, kalau soal aku ga jadi kaya, masih banyak jalan ke roma, dengan banyak berbuat baik aku merasa sangat kaya, tapi bukan kaya duit tapi kaya hati, kaya akan rasa bahagia. So kalau buat yang takut takut nawar ketemu aku aja ga perlu gontok gontokan cukup sekali nawar bungkus dehhh xixixixi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar