Senin, 17 Juni 2019

Kajian di bubarkan lagi?

Miris dengar kajian ustad Firanda dibubarkan, Astagfirullah.

Biasanya klo tidak ada uzur setiap minggu sore saya ikut kajian di mesjid dekat rumah yang menghadirkan ustad Firanda dengan bahasan kajian tauhid.

Saya belum pernah dengar ustad F menyampaikan hal yang bertentangan dengan ajaran agama islam, malahan ustad selalu menyampaikan segala sesuatu bersandarkan Alquran dan hadist. Malah bagi saya ustad Firanda termasuk lucu ada aja joke nya disaat menyampaikan materi. Makanya aneh aja rasanya dengar kajian ustad dibubarkan karena dituduh mengajarkan ajaran yang menyimpang.

Padahal kita katanya masyarakat yang tinggi toleransi, klo ada yang tidak sesuai bagi sebagian kalangan kenapa ga diajak ketemu dan diskusi, atau biar aja masyarakat yang memilih, kajian mana yang cocok bagi mereka.

Klo saya sih pengennya setiap pengajian itu saling bersinergi, jika ada yang tidak sepaham ya udah anggap aja itu warna dalam dakwah.

Memang kadang susah menerima sesuatu kebiasaan yang dari dulu sudah kita lakukan dan kita anggap benar kemudian ada sekelompok orang menganggapnitu salah dan tidak sesuai dengan ajaran agama.

Bagi saya pribadi, ketika awal mendengar seperti ini pasti kesel dan ngomel menganggap yang ngomong itu sok tau. Tapi kemudian ketika mereka punya dasar yang argumentatif dan kitanya juga punya dasar yang kita anggap benar juga ya sudah kita jalan masing masing, biar soal nanti yang mana benar, Allah yang memutuskan dan ukhuwah sebagai sesama muslim tidak ternoda. Bagi saya ga ada yang ga mungkin meskipun kita berbeda tapi kita tetap bersama.

Wallahu 'alam bishawab

Rabu, 12 Juni 2019

Lebaran 2019


Lebaran tahun ini rasanya mellow dan ga semangat. Hhmm mungkin karena lagi proses menata hati. Moment meninggalnya bang oci pas Ramadhan dan sakitnya mama bikin aku kehilangan energi buat ngapa-ngapa eh tapi Alhamdulillah untuk ibadah ga berlaku.

Kesedihan banyak memberikan pelajaran hidup terutama hati ini agar jangan pernah hati tertambat pada dunia. Dunia hanya segitu2 aja ga akan lama. Mau punya banyak ini dan itu juga ga akan melambatkan kematian.

Kematian juga mengingatkan, baik2 menggunakan waktu. Seperti ramadhan kemaren mau malas ngaji, sholat dll jadi ingat belum tentu tahun depan masih ada umur, ga jamin walau usia masih muda. Klo ingat itu langsung deh bergerak 😢

Semoga setelah ini Allah ganti kesedihan ini dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak melenakan karena dunia, kebahagiaan karena ketaatan pada Allah. Allah mudahkan segala urusan, Allah ganti segala kehilangan dengan yang lebih baik. Aamiin...

#narrativewriting

Kamis, 23 Mei 2019

Jangan Suka Berbohong #repost tulisan Tere Liye


Lagi-lagi repost tulisan Tere Liye, yahh lagi suka aja dan pas momentnya disaat lagi bingung dan gemes liat situasi Jakarta berapa hari ini.

Sedih liat Jakarta yang rusuh berapa hari ini, kerugian pasti banyak. Ga hanya materi, korban jiwa pun ada. Apalagi korban perasaan 😊

Saya ga bisa menyalahkan dua pihak, karena setiap orang punya alasan pembenar kenapa mereka berbuat seperti itu.

Hanya mencoba saling mengingatkan dan merenungkan, apakah yang di lakukan ini lebih banyak manfaat apa mudharatnya? Apakah ini baik menurut Allah apa ga?

Saya ga punya pertimbangan lain selain agama, karena dasar atau pegangan hidup saya, ya agama.

Semoga tidak ada kecurangan, semoga tidak ada fitnah, semoga tidak ada saling tuduh. Semoga yang ada hanya kebaikan, saling jujur, saling menghargai dan saling mencintai karena Allah.

Saya mencintai indonesia ini seperti saya mencintai kebaikan-kebaikan. Mari kita mulai dari kita dulu, satu langkah kecil untuk kebaikan sangat berarti untuk Indonesia tercinta.

Jangan terlalu menyanjung manusia. Jika memuji, pujilah Allah yang telah menutup aib dan dosa, karena sejatinya manusia itu tempatnya dosa dan khilaf.
Barakallah fiikum

*Jangan suka berbohong....

Apa itu bohong? Kita semua tentu tahu definisinya. Anak kecil saja tahu.

Apakah kita suka berbohong? Nah, yang ini lebih rumit menjawabnya. Rata-rata kita semua enggan disebut sebagai pembohong, tanpa menyadari, boleh jadi, kita sudah masuk kategori tersebut. Oh ya? Yeap, di tengah hiruk-pikuk media sosial hari ini, jangan2 kita sudah masuk kategori itu.

Ada sebuah hadist yang menarik sekali direnungkan: "Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan." (HR Muslim No. 6).

Baca kalimat hadist itu sekali lagi. Camkan baik2, dan ingat: kalimat itu bukan karangan  Tere Liye, tapi keluar dari mulut Nabi, hadist yang kelasnya sahih.

Saat seseorang selalu menceritakan apa yang dia dengar, dikit2 dia share, dikit2 dia posting, semua dia bagikan, bahkan meskipun saat dia share dia kasih keterangan: 'entah benar atau nggak sih ini', maka jangan2 dia telah masuk kategori pendusta.

Ngapain sih kita harus bergegas share, posting, bicarakan hal2 yg kita dengar? Lebih naif lagi saat di share, dia tulis pula 'tolong dicek kebenarannya'. Dasar si tukang rusuh, kalau ente belum tahu kebenarannya, maka jangan dishare. Ini malah di share kemana2 duluan, terlanjur orang lain jadi ikut baca, dan kemudian share lagi. Ketahuilah, setiap kali sesuatu itu tiba di HP kita, maka ada dua pilihan di tangan kita. Berhenti di HP kita, atau kita teruskan ke orang lain.

Maka sesemangat apapun kita, seemosional apapun kita, jangan buru2 hajar share, buru2 bagikan. Bahkan kalaupun isinya sangat menyakinkan, foto2nya seperti asli, videonya seperti sempurna; belum tentu juga benar. Hari ini, ada video (misalnya), orang jatuh di parit, lantas digebukin, dikasih judul maling dipukuli; belum tentu fakta sebenarnya itu memang maling yg sedang dipukuli. Boleh jadi dialah pemilik toko yang kemalingan, jatuh diparit saat mengejar malingnya. Tidak semua video di youtube itu kebenaran. Tidak semua berita yg dishare di whatsapp itu kebenaran. Tidak semua. Bahkan sorry to say, saya mencoba men-scroll home facebook hari ini, saat bertemu share berita, video, foto, 90% isinya sampah. Sy mencoba mengunjungi website2 yg banyak penulisnya, duh, isinya penuh pendapat sepihak, subyektif, dan sangat politis.

Nah, kalaupun kita yakin sekali semuanya kebenaran, kita yakin sekali semuanya suci tak bernoda, maka ingatlah kata Nabi, cukuplah seseorang dianggap berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan. Ngapain pula harus kita ceritaka semua yang kita dengar? Ngapain pula kita harus share semua?

*Tere Liye

**biasanya sih banyak yg baper. sampai lupa, ini hadist nabi. nah buat yg baper, berhentilah kalian sibuk nge share semua hal.